Penembakan Warga Jerman Timbulkan Keprihatinan
* Poltabes Datangkan Tim Forensik
7 November 2009, 13:23 Utama Administrator
BANDA ACEH - Insiden penembakan terhadap dr Erhard Bauer, Kepala Perwakilan Palang Merah Jerman di Aceh, Kamis (5/11) sore, mengundang keprihatinan berbagai kalangan. Komite Peralihan Aceh (KPA) dan ulama dayah (HUDA), menyesalkan insiden tersebut karena dapat merusak citra Aceh yang sudah aman damai di mata internasional. Kedua lembaga itu dan beberapa lembaga lainnya juga mendesak pihak kepolisian untuk bertindak cepat menangkap pelaku dan mengungkap apa motifnya menembak korban.
Sedangkan korban diterbangkan ke Singapura pada Jumat dini hari kemarin untuk perawatan intensif. Luka ditubuh Erhard Bauer akibat tembakan juga sudah dioperasi. Kondisinya dilaporkan mulai membaik. Sementara itu, empati dan keprihatinan terhadap warga asing yang ditembak itu disampaikan Pejabat Sementara (Pjs) Juru Bicara KPA Pusat, yang juga Wakil Ketua KPA Pusat, Kamaruddin Abubakar (Abu Razak), saat menghubungi Serambi, Jumat (6/11) siang. Dia menilai insiden berdarah itu sebagai kasus serius yang mesti mendapat perhatian polisi di tengah situasi keamanan Aceh yang makin kondusif setelah Nota Kesepahaman Damai diteken pada 15 Agustus 2005 di Helsinki. “Jadi, harus ada satu sikap tegas dari aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas siapa pelakunya,” kata Abu Razak. Menurut dia, pihaknya menaruh keprihatinan atas insiden tersebut. Hal ini penting, mengingat korban adalah warga negara asing yang bertugas dalam misi kemanusiaan di Aceh pascatsunami. Namun begitu, pihaknya tak ingin jauh berspekulasi tentang siapa pelaku dan atas motif apa insiden tersebut terjadi. Menurut Abu Razak, insiden ini bisa berimplikasi besar bagi warga negara asing lainnya yang berada di Aceh. Terutama terhadap jaminan keamanan mereka dalam melakukan tugas-tugas kemanusiaan yang saat ini masih dibutuhkan rakyat Aceh. “Insiden ini benar-benar kita sesalkan, karena memberi citra buruk bagi Aceh di tengah suasana damai saat ini,” ujar Abu Razak. Desakan senada juga dilontarkan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA). Sekjen HUDA, Tgk H Faisal Ali mengatakan, polisi diminta mengungkap motif penembakan tersebut supaya masyarakat tidak menduga-menduga. Menurutnya, hal ini penting agar masyarakat internasional tidak menganggap Aceh daerah yang tidak aman bagi pekerja kemanusiaan. Dia sebutkan, Aceh selama ini mendapat perhatian dunia, sehingga diduga ada usaha pihak tertentu yang berupaya menyudutkan Aceh, apalagi saat ini Aceh gencar disorot terkait Qanun Jinayat yang sedang hangat diperbincangkan.
“Kekhawatiran ulama sangat beralasan karena di berbagai belahan dunia setiap ada kasus seperti ini di daerah yang penduduknya manyoritas muslim selalu banyak yang mengaitkannya dengan syariat Islam,” kata dia. Tak hanya di Aceh, isu penembakan Erhard Bauer juga berembus hingga ke luar negeri.
Dari Berlin, ibu kota Jerman, World Achehnese Association (WAA) melalui delegasinya di Jerman mengecam keras penembakan terhadap dokter asal Jerman itu. “Ini merupakan sebuah upaya propaganda pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang tidak ingin Aceh aman dan damai, sehingga ingin merobek perdamaian yang telah berlangsung kurang lebih empat tahun,” kata perwakilan WAA di Jerman, Khairul Fajri Yahya, dalam siaran pers yang dikirim ke Serambi tadi malam. WAA mendesak kepada pihak berwajib untuk segera mengungkapkan kasus ini agar tidak memberi kesan Aceh tidak aman di mata masyarakat internasional.
Datangkan tim forensikPascapenembakan Kepala Perwakilan Palang Merah Jerman di Aceh itu, Kapoltabes Banda Aceh, Jumat (6/11) sore, mendatangkan dua petugas dari Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri. Kedua petugas itu langsung mengidentifikasi mobil yang ditumpangi Beuer bersama ketiga stafnya, saat penembakan itu terjadi Kamis (5/11) sore. Pantauan Serambi, mobil yang ditumpangi Beuer dkk kini berada di Mapoltabes Banda Aceh. Kapoltabes Kombes Pol Drs Armensyah Thay, yang hendak ditemui wartawan tidak berada di tempat sore itu. Wartawan yang melihat Waka Poltabes Banda Aceh, AKBP Cahyo Budi Siswanto, melintas, langsung meminta statemennya. “Saya tak berani kasih pernyataan. Sebaiknya rekan-rekan wartawan temui Kapoltabes saja,” pinta Cahyo.
Namun, karena wartawan terus mendesak, Cahyo akhirnya menjelaskan bahwa kedatangan Tim Labfor Mabes Polri itu mengumpulkan data awal untuk kepentingan penyidikan dalam upaya pengungkapan kasus penembakan tersebut. Ketika disinggung apa yang melatarbelakangi penembakan Kepala Perwakilan Palang Merah Jerman yang baru dua hari berada di Banda Aceh itu, Cahyo menyatakan pihaknya belum tahu apa motifnya. “Apa ada muatan politis, perampokan, atau ada kepentingan lain, sampai saat ini kami belum tahu persis. Tapi sudah tiga saksi yang kami minta keterangannya. Mereka merupakan staf yang berada bersama Beuer saat kejadian,” ungkap Cahyo.
Menurut Cahyo, polisi terus berusaha mengungkap kasus penembakan itu. Kedatangan Tim Labfor Mabes Polri diharapkan dapat mempercepat pengungkapannya. Berdasarkan keterangan saksi, terdengar dua kali suara tembakan yang dilepaskan pelaku dari senjata laras pendek ke arah mobil yang ditumpangi Beuer bersama stafnya. Saat itu korban hendak kembali ke penginapan yang berjarak sekitar 75 meter dari tempatnya ditembak. Pelaku yang mengenakan sebo itu melepas tembakan ke tubuh korban dalam jarak sekitar dua meter dari sepeda motor yang ia tumpangi. “Sejauh ini kami dan seluruh personel terus berusaha keras mengungkap kasus penembakan warga asing ini,” ucap Cahyo.
Ke Singapura
Sementara itu, dr Erhard Bauer dilaporkan telah diboyong ke salah satu rumah sakit di Singapura, Jumat (6/11) dini hari, untuk perawatan intensif. Korban yang sebelumnya sempat dirawat di RSUZA Banda Aceh, diterbangkan ke Singapura naik pesawat khusus sekitar pukul 02.00 WIB dini hari kemarin, melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar. Serambi yang coba menghubungi Ketua PMI Aceh, Bustari Mansur, tadi malam, tidak berhasil. Beberapa kali handphone-nya tersambung, tapi tak diangkat. Diduga, ia mendapat up date informasi dari Singapura tentang korban penembakan yang merupakan awak Palang Merah itu. Namun, sebuah sumber menyebutkan korban telah selesai dioperasi sebelum shalat Jumat kemarin di Singapura. “Dan kini kondisinya sudah agak membaik,” ungkap sumber Serambi yang tak mau namanya diekspose. (mir/sup/sar/nal)
http://www.serambinews.com/news/penembakan-warga-jerman-timbulkan-keprihatinan
11/09/2009
* Penembakan Warga Jerman Timbulkan Keprihatinan
10/30/2009
* BANYAK BICARA
Banyak bicara tentunya enak didengar kalau isinya penuh dan layak untuk didengar ditambah sedikit bumbu canda dan bersuara bagus, tetapi orang-orang berpendidikan disini rata-rata tidak begitu banyak bicara yang tidak perlu apalagi bercanda dan tertawa sepanjang hari.
Biasanya orang yang banyak bicara mampu menyenangkan hati orang lain yang sedang menghadapi masalah menjadi sejenak lupa dengan permasalahan yang sedang dihadapinya.
Tetapi kalau bicaranya telah melampaui batas atau telah tidak terarah dikarenakan POOR PERSONALITY yang dimilikinya, seperti berkata ghibah dan fitnah karena cemburu atau sok tau dan lainnya, tentunya kita perlu bersikap bijak.
Cara yang paling baik ditempuh adalah kebalikan dari tidak banyak bicara atau diam karena Tuhan lebih dahulu tau dan akan menyiapkan sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Asyik…. Bukan?
Seseorang yang banyak bicara bisa saja dikarenakan memang banyak tau dan berusaha memberitahukan kepada yang lain-lainya agar juga banyak tau. Tetapi bisa juga dikarenakan agar untuk dikenal atau menjadi sumber perhatian orang lain sekalipun sebenarnya tidak layak untuk dikenal.
Katakanlah, mungkin selama ini ada orang-orang tertentu yang merasa tau atau sok tau kenapa saya suka menetap di luar negeri. Kalau modal punya, tentu apa salahnya saya berangkat, ke luar negeri apalagi ini bukanlah pertama kalinya saya ke luar negeri. Banyak WNI lainnya juga pindah ke negara lain, dimana situasi adat masyarakatnya lebih maju dan beradab, keamanan dan perekonomiannya juga lebih baik disamping juga negaranya yang…. termasuk ada musim bunga dan musim saljunya yang tidak mungkin dibuat di Indonesia.
Berapa banyak WNI yang melanjutkan study mereka baik dari modal sendiri, modal dalam negeri dan luar negeri? Kalau WNI lainnya boleh pindah, kenapa saya tidak?
Liat saja betapa banyaknya nona-nona Indonesia yang memilih menikah dengan pria asing agar bisa menetap di luar negeri sekalipun tidak bahagia misalnya, atau pasangan yang pernikahannya tidak sah, contohnya WNA yang berpura-pura masuk Islam agar bisa menikah dengan si nona yang Muslim.
Sebenarnya bisa saja kami-kami pindah dan menetap di pulau lainnya yang berjumlah 17 ribuan pulau di seluruh Indonesia, nyatanya luar negeri lebih…
Kebetulan saya pernah dibelikan rumah yang lumayan (tergantung siapa yang melihat tentunya) oleh orang tua, namun tidak mampu membendung niat saya untuk berangkat dan menetap di luar negeri..
Kebetulan mereka memang sangat perduli dengan anak-anaknya dan kebahagian anak-anaknya lebih mereka utamakan.
Anak-anak yang mendapat perhatian, kasih sayang dan kebahagiaan sejak kecil menjadikan mereka anak-anak yang berjiwa tenang dan tentram, kelak disaat dewasa akan memiliki sikap empati, simpati dan rasa sosial yang tinggi terhadap sesama dan juga tau menempatkan diri.
Bahkan mampu meredam rasa cemburu ke dalam bentuk positif seperti saling mengagumi atau mendukung satu sama lain.
Kebalikannya, anak-anak tersebut akan lebih perduli dengan orang lain dari pada keluarganya, selalu mencari perhatian, memberontak bahkan berani bertindak liar.
Kalau ada seseorang apakah dia seorang pengusaha, pedagang, dokter, dan lainnya merasa tau urusan saya melebihi saya sendiri tentunya dianya telah melampaui batas atau luar biasa. Apakah wajib hukumnya bagi saya diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya sukai, apalagi yang tidak ada untungnya bagi orang lain?
Saya pernah bertemu dengan seseorang yang banyak bicara dan tinggi hati atau…
Mungkin saja karena saya berpakaian sederhana (sekalian menyesuaikan diri dengan kondisi sebagian masyarakat Indonesia yang hidup dalam keprihatinan), dia mengatakan bahwa saya akan cemburu kalau melihat rumahnya yang...
Belakangan seseorang mengatakan bahwa orang tersebut sedang kesulitan membayar sewa rumahnya!
Begitu juga sempat kaget ketika mendengar saya telah siap untuk berangkat ke luar negeri karena pernah mengatakan tidak punya...
Orang banyak bicara memang tidak sesuai untuk memimpin, baik Pukesmas, Rumah Makan, dsb. Seperti botol yang bocor, setiap diisi langsung saja tumpah (keluar).
Seorangnya lagi adalah seorang pendidik senior namun mendidik saya untuk tinggi hati, kebalikan apa yang diajarkan oleh orang tua... tentu saja saya...
Untuk menjadi bijaksana tidak diharuskan memiliki usia, kedudukan dan pekerjaan tertentu, namun diharuskan untuk berfikir terlebih dahulu sebelum dituangkan ke tempat yang layak…
Terbukti sudah bahwa menetap di luar negeri adalah juga sebuah pendidikan (pengalaman hidup).
9/21/2009
MAAF LAHIR DAN BATHIN...
Assalammualaikum Pembaca yang di Rahmati-Nya,
Selamat menyambut Hari Idul Fitri, Minal Aidin wal Faidzin...
Maaf... maaf...sebanyak-banyaknya semua dosa-dosa, baik yang disengaja maupun tidak.
Seperti biasanya Lebaran disini sepi.... sepi....
Nasib... tinggal di Luar Negeri. Kalau luar negerinya negara Muslim... hmmmm.... pasti ada yang mengundang atau diundang.
Lebaran yang paling berkesan bagi saya adalah ketika di Negara Brunei Darussalam, kami bersama ribuan yang lainnya antrian panjang di Istana Kerajaan Nurul Iman agar bisa bersalaman dengan keluarga Kerajaan. Kepanasan lagi!
Meja-meja besar penuh dengan suguhan kue atau snack khas Melayu ala jaman..., hiks.. yang diimport dari Singapura, dan buah-buahan seperti apple dan orange. Biasanya, buah-buahan dibawa pulang oleh tamu-tamu dari keluarga tentara Gurkha. Mereka telah menyediakan kantung plastik masing-masing.
Pernah juga bersama-sama Lebaran ke kediaman beberapa Menteri. Salah satu kediaman Menteri menjamu tetamu dengan paha burung goreng yang lututnya dibungkus aluminium foil agar tangan kami tidak kotor.
Tetapi tanpa nasi gorengnya...
Btw, I miss, Brunei...
Wassalam,
N
DISALAMI SEORANG PEJABAT


Salah satu ilustrasi yang saya suka adalah 2 gambar manusia dari latar etnik yang berbeda bersama-sama memeluk sebuah bola bumi.
Sebelummnya saya memilih seorang kenalan untuk menemani saya kesana tetapi beliaunya menolak dengan alasan sibuk dengan kegiatan mengkalkulasi dan membayar ga ji mingguan karyawannya. Akhirnya saya memutuskan untuk datang sendirian saja.
Bapak Menteri Pendidikan masuk ke ruangan sambil menyalami tamu satu-persatu. Saya memilih berdiri yang terakhir menjauh dari mereka dan berusaha untuk "tau diri". Niatnya dari awal hanya datang sebagai pengunjung biasa dan untuk mendengar kata sambutan beliau. Itu saja.
Setelah menyalami tamu yang terakhir, beliau meliat ke arah saya, lalu tersenyum. Saya kaget, ternyata beliau perhatian. Saya balas tersenyum sambil mengangguk sedikit, hormat. Melihat sikap santun saya, sang Menteri melangkah satu langkah lebar kearah saya, dengan cepat saya pun melangkah menghampiri dan menyambut salaman beliau. Beliau menyapa, "Hello..". Saya juga membalas, "Hello, Sir..". Lalu memperkenalkan diri dan GR...
Setelah berbincang dengan para tamu dan anak-anak sambil mengililingi ilustrasi-ilustrasi yang dipajang, beliau memberikan kata sambutan singkat dan tanpa text, lebih menekankan kepada pendidikan untuk anak-anak. Mungkin saja dikarenakan salah satu sponsornya adalah organisasi Hope for children Office for Children's rights. Seandainya saja kata sambutan beliau juga ditekankan kepada pendidikan untuk mengarahkan anak-anak agar mau membuka, membagi serta membaur kepada perpedaan yang ada disekitar dan take and give, tentunya akan menjadikan anak-anak tersebut kelak tidak akan racis atau fanatik akan etnik, agama mereka dan lain sebagainya. Bukankah "Fanatik" merupakan salah satu sumber kekacauan atau peperangan selama ini?
Sang Menteri ber-chit chat dengan anak-anakTernyata... angin puting beliung/topan bercampur hujan es, walaupun tidak begitu dahsyat tetapi menimbulkan kerugian material. Mobil-mobil tertimpa dahan-dahan dan pohon yang patah maupun tumbang dan pajangan baliho/billboard lainnya. Begitu juga kaca-kaca dan atap genting rumah/pertokoan di wilayah tertentu terbang dan pecah oleh terjangan angin dan hujan. Kalau fenomena alamnya mengakibatkan kerugian seperti seperti ini, siapa yang suka?
9/08/2009
* UNDANGAN IFTAR (BUKA PUASA BERSAMA)
Assalammulaikum Pembaca yang di Rahmati-Nya,
Selamat Berpuasa!
Ingin juga sekali-kali saya mengundang pembaca beriftar atau berbuka puasa di bulan suci Ramadan ini bersama. Berhubung jumlah pengunjung disini yang terus menanjak (aslinya mungkin 1-5 pengunjung), saya mengkhawatirkan omzetnya mau dicari dimana dulu, sebaiknya saya bagikan saja resep makanannya agar bisa dicoba dan beriftar di rumah masing-masing.
Khusus untuk kaum Adam dan Hawa yang tinggal di LN, tidak ada ruginya belajar memasak. Apalagi ke-halal-annya terjamin. Memasak itu seni dan menyenangkan, tentu saja kalau hasilnya hmmmm.....
6/25/2009
6/10/2009
4/13/2009
69*BERTEMU DENGAN CHRIS ...
Dia menyapa dengan sopan. Lalu, menambahkan foto-foto lainnya tanpa terlihat show off. Laut yang biru di kepulauan Yunani yang khas beserta foto dirinya yang sedang mengemudikan boat dan beberapa yang lainnya, tetapi wajahnya itu... seperti tidak ingin ditampilkan.
Membaca profile dan foto-fotonya yang ditampilkan, saya merasa tertarik. Tertarik akan sosok yang ditampilkan, dan hanya terbatas tertarik, karena saya menyadari jauh dilubuk hati, akan "keyakinan" kami yang berbeda.
Di dalam salah satu emailnya, dia melampirkan 2 buah foto yang diambilnya pada pagi itu. Indah..
Kamipun setuju untuk bertemu, bertemu untuk hanya sekedar berkenalan karena sama-sama tertarik dengan photography. Tentunya setelah yakin bahwa orangnya adalah "real" dan bukan Asian yang convert menjadi Caucasian.
Saya mencarinya disebuah kafe lokal yang tidak kalah besar dan ramai dibandingkan Starsbuck Cafe. Sendiri, duduk jauh dibagian dalam didekat pintu belakang menuju ke tempat parkir. Rambutnya yang khas, gelap bercampur abu-abu sekalipun baru berusia diakhir 40an tahun dan panjang hingga dibawah pundak. Khas seorang artist tetapi tidak nyentrik. Dan saya sadar, saya tidak sedang bertemu dengan seorang biasa yang bisa ditemui dimana saja.
Dia berbeda, dan dia memiliki nama yang dikagumi di luar negeri dari pada di kampung halamannya sendiri, yang menurutnya tidak ada seorangpun yang mengenalinya. Tampil beberapa kali di stasiun televisi dunia seperti di US dan UK dan terakhir bekerja sama dengan beberapa perusahan di Saudi Arabia. Dia adalah seorang multimedia designer, underwater film director, dan photographer, yang mungkin tanpa kita sadari film-film dokumentar alam bawah airnya pernah kita saksikan melalui channel Discovery dan National Geographics.
Pakaiannya casual, suka-sukanya. Tidak ada yang terlihat mewah kecuali bahan celana ala bahan tilam, namun terlihat bagus dan mahal. Percaya dirinya cukup tinggi tetapi santai sehingga saya merasa comfortable berbincang-bincang dengannya. Sempat-sempatnya kami tertawa lepas ketika saya menceritakan tadinya saya sempat membaca sebuah judul berita online, seorang pria Saudi menceraikan istrinya melalui SMS.
Katanya, dia merasa sendiri karena tidak memiliki teman, dan tidak tertarik bergaul dengan komunitasnya sendiri dikarenakan mental mereka yang berbeda. Dia berbicara ketika perlu, begitu juga tertawa. Jika tidak, dia memilih diam. Dia tidak juga suka shopping (perempuan), tetapi mudah mendapatkan yang diinginkannya. Dan saya tau itu.
Ketika kami harus berpisah, dia meminta saya untuk dinner bersama. Saya menolak dengan sopan dengan alasan yang tidak jelas karena begitu sulit sekali untuk menjelaskannya melalui lisan dan berjanji akan menerangkannya melalui tulisan. Karena, sedari awal kami memang tidak ada niat untuk kesana...
Dan...dia tidak membalas pesan saya.
Entahlah, mungkin sayanya yang kurang pergaulan karena memilih-milih.

4/04/2009
67* SEMOGA SEHAT KEMBALI
Saya mengenal Bapak Prof. DR. Winarno Surakhmat atau yang kami panggil dengan sebutan Oom Win, ketika mengikuti kedua orang tua saya yang saat itu bekerja di Negara Brunei Darussalam selama kurang lebih 11 tahun. Sopan santun beliau begitu luar biasa tinggi, seakan-akan saya adalah....
Setiap saat bertemu dengannya, selalu meninggalkan kesan yang cukup mendalam kususnya kepada saya pribadi.
Sulit sekali untuk menjelaskannya, karena tidak pernah selama hidup saya bertemu dengan orang yang seperti beliau
Sekalipun diusianya yang telah senja, tetapi beliau masih tetap aktif mendidik dan berbagi Ilmu kepada generasi muda Indonesia, mengingatkan saya akan halnya Ayah saya sendiri yang secara sukarela membagikan pengetahuan beliau kepada para junior, termasuk kesemua buku perpustakaan yang ada ikut dipindahkan ke tempat dimana beliau pernah berbakti. Walaupun pensiunan beliau hanya cukup-cukupan untuk bahan bakar kenderaan.
Mulianya para guru, bukan?.jpg)
3/31/2009
*76 KRIMINAL
Rumah Caleg Perempuan Dibakar
* Dua Pelaku Bersebo
30 Maret 2009
MEULABOH - Kekerasan politik menjelang Pemilu 2009 di Aceh mulai mengarah ke calon anggota legislatif (caleg) perempuan. Rumah milik Cut Laila (29), caleg Partai Aceh (PA), di Desa Puuk, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Sabtu (28/3) sekira pukul 21.00 WIB dibakar oleh dua orang tak dikenal (OTK).
Pelaku membakar rumah itu saat Cut Laila bertandang ke rumah tetangga, juga pada saat listrik PLN padam. Namun, kobaran api yang telanjur menyala dalam kegelapan malam berhasil dipadamkan warga, karena cepat ketahuan.
Warga yang berlarian ke rumah korban untuk memberikan pertolongan, bahkan sempat berserobok dengan dua orang pelaku bersebo yang baru beraksi memantik api di rumah korban. Tapi kedua pelaku berhasil meloloskan diri dari dengan berlari kencang ke areal perkebunan di samping rumah korban.
Cut Laila yang ditanyai Serambi, Minggu (29/3), mengatakan saat kejadian ia tak berada di rumah. “Saat itu saya sedang ke rumah tetangga untuk suatu keperluan,” ujar Cut, istri Mawardi, mantan Dandenpom Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Meulaboh Raya. Kini, sang suami tercatat sebagai anggota Komisi Peralihan Aceh (KPA), sedangkan Cut Laila mencalonkan diri sebagai caleg dari Partai Aceh.
Menurut Cut, sebelum pembakaran rumahnya terjadi, beberapa hari lalu ia sempat melihat beberapa orang yang tak dia kenal mengintai rumahnya di pinggir jalan provinsi pada lintasan Meulaboh-Tutut. Bahkan pada Sabtu (28/3) pagi ia sempat melihat seorang pria bersebo (mengenakan kain penutup wajah) di kebun samping rumahnya dengan gerak-gerik mencurigakan. Setelah dia coba dekati, orang itu langsung menghilang ke dalam semak belukar. Tapi beberapa saat kemudian terdengar deru sepeda motor dari arah kebun, pertanda pria bersebo tadi sudah kabur naik sepeda motor. Ia menduga, pembakaran rumahnya pada Sabtu malam ada kaitannya dengan dipergokinya seorang pria bersebo di kebun dekat rumahnya pada Sabtu pagi.
Cut menyesalkan kasus pembakaran rumahnya, apalagi itu terjadi di masa Aceh sudah damai dari konflik bersenjata. Saat peristiwa itu terjadi, menurut Cut, suaminya yang aktif di KPA sedang berada di Banda Aceh untuk satu keperluan.
Cut yakin, pembakaran rumahnya oleh kedua pelaku yang bersebo itu dilakukan dengan sangat terencana. Yakni, pada saat suaminya berada di luar kota, juga pada saat dia bertandang ke rumah tetangga, dan ketika listrik PLN padam. “Jangan-jangan listrik padam itu pun ulah si pelaku,” cetus Cut Laila.
Cut juga menambahkan bahwa beberapa saat sebelum pembakaran itu terjadi, sejumlah warga sempat mendengar suara gemuruh truk yang suaranya beda dengan truk lainnya, berhenti mendadak di sekitar rumah Cut. Namun, warga tak menghiraukan sampai kemudian terjadi insiden pembakaran tersebut.
Namun, Cut masih merasa bernasib mujur, karena pembakaran rumahnya cepat ketahuan warga dan 30 menit kemudian berhasil dipadamkan. Kerugian material pun tidak seberapa.
Meski sebagian besar harta benda korban berhasil diselamatkan, namun Cut mengaku trauma atas kejadian itu. Ia yakin perbuatan itu sengaja dilakukan pihak-pihak tertentu yang tidak senang padanya sebagai caleg dari Partai Aceh untuk daerah pemilihan (dapil) II.Kasus ini telah dilaporkan Cut kepada aparat keamanan setempat.
Namun, menurut Cut, hingga kemarin pihak penegak hukum belum datang ke kediamannya untuk melakukan penyelidikan terhadap insiden pembakaran tersebut.
Sedang diselidiki
Kapolres Aceh Barat, AKBP Linggo Wijanarko, melalui Kasat Reskrim AKP Deni Saputra SH yang ditanyai Serambi, membenarkan telah terjadi pembakaran rumah milik seorang caleg PA di Desa Puuk, Kecamatan Kaway XVI. Namun, hingga kini pihaknya belum tahu secara pasti motif dari kasus tersebut.
“Kasus ini masih diselidiki oleh tim di lapangan. Saya belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut, karena masih menunggu laporan dari tim di lapangan,” jelasnya. Menurut Deni, pihaknya juga tak bisa menyimpulkan apakah pembakaran rumah Cut Laila itu ada kaitannya dengan unsur politik atau tidak. Ia berjanji, kalau nanti telah ada titik terang terhadap kasus ini, maka akan dipublikasikan.
http://www.serambinews.com/news/rumah-caleg-perempuan-dibakar
1/14/2009
73*SYUKRAN-EFHARISTO-ARIGATO-THANK YOU= TERIMA KASIH
Dear Pembaca yang di Rahmati-Nya, Salam manis, N
(Dirahmati dengan hati dan pikiran yang bersih dan jernih tentunya jauh lebih baik, bukan?).
Maaf banyak-banyak kalau saya tidak membalas sinyal-sinyal yang terkirim dan bertebaran diberbagai tempat atau sayanya yang GR-an, ada yang terbaca dan ada juga yang tidak, berhubung sedang ada hal lainnya yang sedang diurus (yang jelas bukan sedang menggoreng big fish-ikan asin Hering yang goblok dan geblek itu!). Apalagi selama ini buka internetnya hanya sekilas untuk melihat berita utama dari situs tertentu saja kalau ada yang menarik dibaca kalau tidak ya... tinggalkan. Kelas baru yang pernah saya sebutkan sebelumnya juga telah lama saya tinggalkan, ngeri... kok masih ada ya orang yang seperti di tengah rimba Afrika sana?
Merujuk tulisan saya dalam Inovasi berkomunikasi, makian yang yang ditujukan kepada saya mengingatkan saya kepada sistem legal orang primitif di benua Afrika. Kalau halaman anak sukunya dilangkahi, semua orang sekampung marah dan datang sambil membawa parang. Apa salahnya saya bersiar-siar atau membagi pengalaman sosial sehari-hari dikolom ini? Kalau ada anak sukunya nyeleneh kesana-sini dihalalkan. Bukankah lebih baik membina anak suku tersebut agar tidak berlebihan. Berlebihan inilah sebenarnya yang menjadi alasan kenapa ada WNI kok enggan bergaul dengan sesamanya di LN, atau kok ada pegawai KBRI ketus dengan rakyatnya sendiri...
Belajarlah dari anak-anak suku lainnya yang bertebaran di belasan ribu pulau di seluruh Indonesia. Banyak dari mereka yang bersiar-siar atau menetap di LN bersama suami WNA mereka tapi mereka lebih ....
(Jangan-jangan pembunuhan yang baru-baru ini terjadi yang mayatnya dimasukkan ke dalam kopor, ditujukan untuk saya?).
Baru-baru ini saya sempatkan diri bersiar-siar di Gunung Troodos yang ditutupi salju. Sebelumnya, sempat juga saya singgah disebuah perkampungan di anak kaki pegunungan yang sejuk dan tenang. Menikmati pemandangan alam dan keindahan ciptaan Tuhan. Duduk sebentar dengan seorang nenek dan membagi potongan cake yang saya bawa sebagai snack, oh.... senang sekali rasanya ketika si nenek menerimanya.
Khusus buat Ibu bermandila biru di pulau XX, saya juga setuju. Bahkan ada orang yang ber-ilmupun enggan menulis atau membagi ilmunya kepada generasi muda, bahkan yang ditulispun masuk ke kategori yang tidak perlu ditulispun ditulis, kata orang bijaksana.
Kita liat saja bagaimana generasi muda sekarang... bahkan seorang pengusaha, ekonom, pejabatpun... dilarang punya anak.
Kepada Bapak XXX juga setuju mengenai pentingnya philosophy kembali diajarkan kepada generasi baru. Disamping agar generasi baru mampu berfikir lebih dalam lagi juga mampu mengalisa psikologi diri. Jangan-jangan kita ini seorang Psychopath (jelasnya silahkan cari di google). Psycopath yang suka menzalimi orang lain, tidak memiliki empathy, tidak merasa bersalah, dll.
Entah kebetulan atau tidak, seorang kenalan menawarkan saya DVD American Psycho 2, diperankan oleh seorang nona manis dan digarap cukup menarik. Sayangnya, saya tidak sempat menontonnya kecuali secuil. Diceritakan mengenai awal perkembangan kepribadian sang nona manis tersebut yang kacau dikarenakan masa kecilnya yang tidak bahagia.
Sekali lagi kepada Bapak, Ibu, nona manis, oom ganteng dan semua yang lainnya (termasuk pemerintah atas perhatiannya belakangan ini) Terima kasih, Merci, Danke, etc.
Khusus kepada pemerintah, sudah saatnya TNI/militer dan sejenisnya yang ada di Aceh saat ini diganti dengan yang dari pulau-pulau lainnya. Bukankah Indonesia terdiri dari belasan ribu pulau?
Kekacauan selama ini yang masih berlangsung disana tidak jauh dari tangan-tangan mereka. Ingat peristiwa kekacauan di Lhokseumawe pada saat penarikan pasukan tersebut pada tahun 1999 (mereka sebenarnya enggan pergi dari sana), seorang kenalan saya pernah ditipkan sebuah bungkusan oleh seorang TNI yang ternyata berisi 3 butir granat. Sejak itu, si kenalan tersebut keluar dari keanggotaan TNI. Motif sebenarnya dia bergabung dengan TNI karena filosofi TNI yang mengagumkan, bukan karena hal lainnya.
Pungutan liar yang terjadi pada sebuah pelabuhan setempat di bulan Ramadhan yang lalu mengingatkan saya pada pungutan liar yang marak terjadi pada era Orba. Saya sendiri pernah dizalimi ketika seorang pensiunan TNI non lokal menabrak kenderaan saya dari belakang. Polisinya yang saya lapori (non lokal) tersebut justru menahan STNK kenderaan saya. Ketika STNK tersebut saya minta, wah... saya dibentaknya karena tidak memberinya duit. Mana saya tahu kalau saya diwajibkan menebusnya. Pun saya tidak diperbolehkan mengklaim asuransi kenderaan tersebut seperti halnya paket pos saya yang hilang dulu tetapi enggan diganti oleh pos Indonesia. Ah... ada satu contoh lain tapi enggan saya tulis. Bosan...
Belum lagi mengingat bagaimana kejinya mereka selama masa-masa konflik. Saat sweeping dirumah-rumah penduduk, seluruh harta rakyat dan kerabat kami yang miskinpun habis dikuras.
***********************
Selingan:
12/09/2008
63*MENCARI MAKANAN HALAL
Assalammualaikum ww...
Ied Mubarak lagi. Selamat Idul Adha bagi yang menunaikannya.
Senangnya mereka yang meninggal ketika sedang berhaji atau yang sedang akan dan baru pulang dari haji.
Ada tidak yang bercita-cita ingin meninggal ketika sedang berhaji? Hehe...
Pertanyaan yang sulit dijawab.
Beberapa tahun yang lalu, tepatnya malam Paskah. Seorang kenalan minta ditemankan jalan-jalan meliat gereja-gereja mana yang membuat api unggun. Dapatnya diseebuah gereja di Ayios Andreas. Ketika kami tiba sekitar jam 12 tengah malam, apinya sudah mulai dibakar. Ternyata hehehe... apinya kebesaran.
Ngeri juga meliatnya, apalagi lidah apinya lebih tinggi dari gerejanya dan hampir menyambar mobil-mobil yang terparkir disekitarnya. Ketika saya tanya kepada kenalan tersebut, apakah anda percaya neraka? Jawabnya, iya. Lalu saya tanya lagi, kalau nanti anda mati kira-kira akan masuk neraka atau surga. Jawabnya neraka, Wah...
Wajahnya terlihat takut dan berfikir. Ternyata tidak rugi saya dijemputnya walaupun sempat menolak berkali-kali dengan alasan udaranya yang dingin dan mengantuk.
Orang-orang disini fanatik tapi tidak menjalankan kewajiban beribadah kepadaNya. Kuno kata mereka. Tapi mereka perduli sekali kepada sesama.
Contoh, ketika saya minta tolong diantarkan ke bengkel untuk menganbil kenderaaan saya, saya telfon seorang kenalan yang adalah seorang kepala Kepolisian disebuah pos kecil dia tidak menolak. Bahkan ada kepala bagian sebuah immigrasi yang sampai terliat basah sudut matanya karena tidak bisa memberikan saya izin untuk menyeberang ke negara sebelah untuk mencari makanan halal.
Beliau sempat menyebut sebuah nama jalan dimana banyak menjual makan halal. Saya tolak dengan alasan bosan dengan makanan Arab terus.
Kami berbincang-bincang lumayan lama seperti telah pernah kenal sebelumnya. Bahkan ada seorang kenalan saya yang berpangkat Kolonel, setiap kali berada disalah satu cafe favouritenya dan MINUM, tidak pun tertarik untuk menayakan dokumen para Immigran sekitar yang legal atau illegal. Cuek...
Bahkan ketika beliau bekerja dibagian Immigrasi, dulunya sering menolong Immigran yang minta menetap disini dengan mudah, sadar akan kelemahannya beliau minta pindah ke pos lainnya.
Saya berbicara dengan semua orang disini, miskin-kaya, cantik-tidak cantik, orang kota-orang kampung, termasuk dari afrika dan juga dengan anak-anak. Kadang-kadang para anak-anak bertepuk tangan ketika saya lewat. Pernah juga satu bis besar semuanya terdiri dari anak SMA laki-laki memberi tanda tangan keluar jendela agar terliat oleh saya. Huih.. GR!
Bukan karena saya cantik, No, I am not beautifull tapi karena kenderaan yang saya gunakan lumayan cute untuk mereka.
Pengalaman kecil, tetapi manis. Kadang-kadang ngeri juga dengan anak-anak tanggung seperti mereka. Bandelnya itu...
Kembali ke makan di negara bagian Utara. Terakhir kali saya kesana, beberapa waktu yang lalu ketika mencari info untuk jalan-jalan ke Istanbul dan tentunya mencari makanan yang telah matang maupun beku siap jadi. Bosan masak Lasangna dan Moussaka terus. Moussaka yaitu irisan kentang dan terong goreng disusun diatas pirex, lalu ditutup dengan Bechamel Sauce (campuran susu, butter dan terigu), kemudian dimasak didalam oven.
Secara tidak sengaja saya melihat Coat (pendek)murah meriah made in Turkey seharga setengah harga. Rugi rasanya kalau tidak diambil.
Akhirnya... karena belanjaan tersebut, sayapun dicegat oleh seorang petugas dan.... setelah itu saya dilarang kesana lagi. Hiks... sedih. Padalah makanan Turki termasuk makanan favourite saya dan ke Istanbul pun batal.
11/28/2008
72*INOVASI BERKOMUNIKASI
Akhirnya lahir juga kelas baru khusus buat mereka yang beda kelas. Di dalam agama yang saya anut, katanya berbagi ilmu itu ibadah, atau juga menyembunyikan ilmu sama dengan dosa.
Khusus bagi yang lapar ilmu atau sekalian yang ingin mencurinya atau juga ingin agar tertular silahkan saja dekat-dekat ke kelas baru tersebut.
Dijamin, engga ada tulisan sekelas ... atau foto-foto sekelas ... muncul tiba-tiba, kata anak-anak dibelahan bumi sana. Maaf dulu... mantan salah seorang pembantu kami yang sekolahnya hingga SMP wajahnya boleh juga tuh! Apalagi pancaran matanya yang bersih dan bening (hidup), menunjukkan cermin hatinya. Katanya, salah satu mata Demi Moore palsu (mati). Ada yang tau?
Baiknya, Asosiasi TKW RI juga memberi kesempatan dan wadah kepada masyarakatnya yang ingin menjadi figur di kelasnya masing-masing. Contoh, setiap tahun para TKW dari Filipina menyelenggarakan Miss-missan (bukan mimisan hehehe..) ala mereka di Luar Negeri. Beritanya muncul di koran setempat, taunya di tahun 1990-an di Malaysia dan 14 Feb 2008 di pulau ini. Para modelnya yaitu mereka-mereka yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga. Kalau Filipina bisa, kenapa Indonesia tidak?
Dengan membentuk komunitas masing-masing kita saling berkomunikasi: berbagi dan belajar, bukannya berperang. Terutama manners kita yang malu-maluin. Katanya sopan-santun kita mencerminkan bangsa kita. Semakin maju peradaban, maju pula mentalitas kita.
Lalu... belajar mengenal komunitas-komunitas lainnya. Inilah salah satu tujuan Allah Swt (Tuhan) menciptakan manusia.
Jadi ingat komentar seorang Imigran dari Bulgaria di dalam sebuah harian berbahasa Inggris di sini. Katanya kira-kira seperti ini, "This Island is a big Village...". Tentu saja.
Masyarakatnya mapan, keren, dan cantik-cantik, tapi mentalnya.... tidak ada bedanya dengan mereka-mereka yang datang dari dunia ke-3 seperti kita Indonesia. Sempit, dan merasa hanya kitalah yang ter-Best. Tentunya, tidak semuanya!
11/20/2008
63*TUMOR MULUT, MAKANPUN BERCAMPUR NANAH
Tumor ganas yang sudah bersemayam selama lima tahun dalam mulutnya, membuat perempuan miskin itu hanya bisa berbaring tak berdaya. Seluruh rongga mulutnya terasa sakit yang tak terperikan. Bahkan, tak jarang ketika ia makan, cairan nanah yang kerap keluar dari bagian mulutnya yang sakit itu, ikut tertelan bersama rongga pencernaannya. Begitulah Nek Sairah (50) warga Desa Meunasah Puntong, kecamatan Samudra, Aceh Utara menjalani sisa-sisa hidupnya dalam penderitaan panjang. Kemiskinan yang kerap membelit, telah menyebabkan ia tak mampu lagi mengobati penyakitnya yang semakin mengganas itu.
..........................
Setelah pulang dari Banda Aceh, ia pun seperti trauma untuk berobat, karena semakin banyak ia mengeluarkan biaya namun hasilnya tetap nihil, kendati demikian ia tidak putus asa dan tetap chek up penyakitnya ke RSUCM , sehinga ia pun dirujuk lagi ke rumah sakit ternama di Medan Sumatera Utara.
Dalam rawatan disana penyakit buka sembuh, tapi salah satu panca indranya (mata kirinya) pecah pada saat di kemotherapy ...
http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=58965&rubrik=1&kategori=7&topik=15
11/18/2008
62* Cut Nyak Dhien 1848 – 1908
Tjoet Njak Dien (Cut Nyak Dhien)1848 – 1908
Tjoet Njak Dien as a prisoner
Tjoet Njak Dien did not die in her own land or amongst her own people. She died as "Ibu Perbu," which means "The Queen", a name given to her by the local people in Sumedang, West Java. The local people never knew that this gracious and religious prisoner, bought to them by Dutch Soldiers on December 11th 1906, was, in fact, the famous Jihad Heroine of Acheh Province. Dien had fought the Dutch from the jungle for 25 years.
We know from other modern studies, such as "The Rope of God" by Siegel (1969), how strong the spirit of Jihad is amongst the Achehnese. However, what that book does not reveal, is how the women are ready to join and lead in Jihad also. These are other heroine’s names that we are familiar with and our apologies for any others who have not been mentioned.
Tjoet Meutiah
Tjoet Gambang (Kambang)
Keumala Malahajati
(Keumala was an Achehnese admiral who Achehnese fleet to fight the Portuguese in Malacca).
Dien, who was active in writing and delivering speeches on the beauty of Jihad, was born in 1848 into Achehnese nobility. Her father, Teuku Nanta Setia was an Uleebalang (commander, or literally, Sultan’s military officer) of VI Mukim of the Sagi XXV Military District. Nanta Setia’s ancestor was Panglima Nanta (Chief Commander), a descendant from Sultanah Tajjul Alam, an Achehnese ambassador (also a woman) for Pagaruyung Sultanate in West Sumatra. Dien’s mother was also from an Uleebalang family, the Uleebalang of Lampagar.
Having married young (in 1862), to Teuku Ibrahim Lamnga, a son of Uleebalang of Lam Nga XIII, Dien soon realised, as the daughter and the wife of commanders of Army divisions, that she would have to farewell them when war broke out against the Dutch.
Her two most beloved left her on March 22nd 1873, to fight Jihad and succeeded expelling the Dutch from Acheh. Even the Achehnese army succeeded in killing the Dutch Army commander, General Kohler, in the battle to defend Kutaraja, the Achehnese capital. She was happy to see them both back safe.
On December 11th 1873, the Dutch invaded Acheh again, lead by General Van Switten. They had returned with a vengeance and 7,000 well-equipped infantrymen who managed to break the Achehnese line, on December 22nd 1873. Dien was parted from her husband and father for a longer period, this time.
This second invasion was better prepared and better planned than the first invasion. The Dutch advanced carefully and in an orderly manner, until succeeding in capturing the capital. The Sultan was forced to leave the capital and began the guerilla war against the Dutch. Dien, this time, followed her father and her husband into the jungle. She sacrificed everything, her jewelry, her comfortable life and her health.
Tragically, during the guerilla war, Nanta Setia, (her father) and Ibrahim Lamnga (her husband), were attacked heavily, surrounded and after fierce fighting, both were killed. This battle is known as the "Battle of Sela Glee Tarun." Most of the troops were killed also and it was thought to be due to a betrayal by Habib Abdurrahman
Participating directly, as she was, in Jihad, Tjoet Nyak Dien took over both her late husband’s and father’s army commands and led them in guerilla warfare from the jungle. She re-built these units and led them successfully. A far cry, from living like a princess, in VI Mukim. This is significant in the history of Muslimahs and which led to her eventual recognition as a National Heroine of Indonesia and indeed the entire Ummah.
While leading these guerilla army units, she met another army commander from Meulaboh, West Acheh, by the name of Teuku Umar, who was one of Dien’s relatives. He was fascinated with her refusal to mourn her husband and father, because she said she should be happy that her two most beloved had reached the most noble status and died as a Shaheed in Jihad.
They soon married and together led the two armies into a series of successful assault missions. Dien had one daughter with him whose name was Tjoet Gambang. Tjoet Gambang was to follow her Mother’s example. Some years later, after the destruction of Dien’s army, Tjoet Gambang married Teungku Di Buket, son of the most famous Ulama and guerilla leader, Teungku Cik Di Tiro. It is commonly thought that Tjoet Gambang died a martyr in 1910, two years after her Mother’s death in exile.
Around 1875 Teuku Umar (her husband) made a strategic move, seen as a betrayal by those unaware at the time. Both of them came out of the jungle and surrendered to the Dutch.
Their clever ploy was to lie to the Dutch, so when they came out of the jungle they said. Quote: "they realized they had done wrong so they wanted to re-pay the Dutch by helping them destroy the Achehnese resistance." Un-quote.
The Dutch were very pleased that such dangerous enemies were willing to help them. In gratitude, they decorated her husband with a Medal of Honor and called him "Teuku Johan Pahlawan", which means the greatest hero. They also made her husband commander in chief of a Dutch army unit with full authority.
They kept their plan a secret, even though they were continuously accused of being traitors by their own people. Their intention was to study Dutch strategy ,while slowly replacing as many as they could of the Dutchmen in the unit with Achehnese men. These Achehnese men were from their guerilla army units. When the numbers of Achehnese in this army were sufficient, Dien’s husband proposed a false plan to the Dutch, claiming that he wanted to attack an Achehnese base.
Dien and her husband left with all of the troops and the Dutch heavy equipment, weapons and ammunition, never to return.
This raised the ire of the Dutch and huge operations were launched to capture both Dien and her husband Umar. The guerilla army, however, were now armed with the best equipment stolen from the Dutch and returned its identity to the strategic guerilla army. They began to heavily attack the Dutch while General Van Switten was replaced, humiliated and disgraced. His replacement, General Pel, was quickly killed and the Dutch army was in chaos for the first time.
Dien and Umar applied repeated pressure on occupied Banda Acheh (Kutaraja) and Meulaboh (her husband’s former base) and the Dutch had to continuously replace its Generals. The mighty guerilla army that was created, trained and led by this formidable pair, was successful.
A gruesome history was to follow, however, when General Van Der Heyden was installed and never to be forgotten by the Achehnese.
Brutal and bloody massacres of men, women and children in innocent villages took place, when the inhumane General Van Der Heyden engaged the "De Marsose" units. They were so savage that they were almost impossible to defeat. Most of the troops of "De Marsose" were Christian Ambonese. They destroyed everything in their path, including property and villages, as well as the people. These units caused even the Dutch soldiers to feel sympathy for the Achehnese, and eventually, Van Der Heyden dissolved the "De Marsose" units. These events may, however have paved the way for the following General’s success, as many people who were not involved in Jihad had lost their lives or their loved ones lives, their property or indeed all of their loved ones and property. Fear and grief may have then weakened the remaining broader population.
General van Heutz exploited that fear and began to bribe local Achehnese to spy on the rebel army and act as informants. It wasn’t long before the Dutch soldiers found Dien’s husband and he was killed on Umar’s attack mission to Meulaboh on February 11th 1899. It was known as a betrayal by the informant named Teuku Leubeh.
When Tjoet Gamgang (her daughter) heard of her father’s death she began to cry and was slapped by her Mother (Dien) who then hugged her and Dien is quoted as having said:
Quote: As Achehnese women, we must not shed tears for anyone who becomes a Shaheed" Unquote. (A Shaheed is one who dies in Jihad)
Tjoet Njak Dien’s husband, Teuku Umar’s death, left Dien alone again to lead the rebel army. Weakened then by advancing age, Dien, with her army, retreated further into the jungle. Trying not to mourn over her late husband, Dien continued to lead this rebel army, assisted by her army officers, such as Pang Laot Ali and Pang Karim. This army fought until its final destruction in 1901 and it consisted of men and women. Pang Laot Ali who felt sorry for Dien’s condition, hoped that the Dutch might give medical treatment for her. He deserted to the Dutch and bought the Dutch army into Dien’s camp in Beutong Le Sageu. They were completely caught by surprise and fought to the last man and woman except for Gambang and Dien. Pang Karim was said to be the last man to defend Dien with his sword until his death. Only due to her blindness was Dien captured and even then she held a rencong (a traditional Achehnese dagger) in her hand trying to fight the enemy. Her daughter Gambang, however escaped deep into the jungle, where it is known that she continued the resistance in the spirit of Jihad as her Mother and
Father had done. There is little information to be found about Tjoet Gambang. Our humble apologies for being unable to provide more information than this at this time.
Exiled by the Dutch, Dien’s arrival in Sumedang in her worn out clothes and accompanied by other Achehnese political prisoners, naturally drew the attention of the Regent Suriaatmaja as a faithful Muslimah. The male prisoners demonstrated obvious respect to this small, old lady, but the Dutch soldiers were forbidden to reveal the identities of the captives.
Due to their obvious deep religious nature, especially Tjoet Njak Dien, they were placed with the local Ulama, named Ilyas. Ulama Ilyas quickly realised that his guest, who could not speak their language nor them hers, was indeed a scholar in Islam and became known as "Ibu Perbu"(The Queen). Her sound Islamic knowledge and her ability to recite Al-Quran beautifully earned her the invitation to instruct on Islam.
"Ibu Perbu "or Tjoet Njak Dien taught Al-Quran in Sumedang, West Java, until her death on November 8th 1908. She was buried as "Ibu Perbu" in the cemetary of Sumedang’s nobility in Gunung Puyuh, in the outskirts of Sumedang.
By 1960, those Sumedang locals who could have recollected who "Ibu Perbu"was, had passed away. However, information came from the Dutch Government based on official letters in "Nederland Indische", written by Kolonial Verslag, that Tjoet Njak Dien, rebel leader from Acheh Province, had been placed in exile in Sumedang, West Java. There had only ever been one Achehnese female political prisoner sent to Sumedang. It was realized then, that"Ibu Perbu"was in fact Tjoet Njak Dien, "The Queen of Jihad" and was then recognized by President Sukarno as a National Heroine.
A small Achehnese Mosque (meunasah) was built near the cemetery in her memory.
http://www.asnlf.net/asnlf_int/acheh/history/tjutnyakdhien/tjoet_njak_dien.htm
11/13/2008
60* Buku Tasawuf Aceh Diluncurkan
Acehlong.Com
Buku Tasawuf Aceh Diluncurkan
Rab, 10.09.2008, 12:13am (GMT7)
BUKU tasawuf Aceh karya Sehat Ihsan Shadiqin diluncurkan, Minggu (7/9) di Darussalam Banda Aceh. Peluncuran berlangsung sederhana dihadiri penulis dan jajaran redaksi penerbit.
Kami sangat bangga dapat menerbitkan karya pemuda Aceh, bagi kami buku ini dapat menambah khazanah keilmuan sufisme di Aceh," kata Manager Operasional Bandar Publishing,
Lukman Emha yang dihubungi Waspada di Lhokseumawe.
Didampingi Direktur Eksekutif Mukhlisuddin Ilyas, Lukman menambahkan, buku Tasawuf Aceh memuat beragam perspektif sufisme di Aceh yang penting dibaca bagi peminat sufisme dan nusantara. Buku yang diberi kata pengantar Prof. Ahmad Daudy setebal 200 halaman ini, menggambarkan realitas sejarah sufisme di Aceh secara komprehensif.
Buku itu diawali prolog penulis tentang Jejak Tasawuf di Aceh. Lalu bahasan perkembangan awal Islam di Aceh, peran sufi dalam Islamisasi di Nusantara, pemikiran-pemikiran Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry, Abdurrauf as-Singkili, pembahasan terakhir ditutup dengan mistisisme Modern di Aceh; Dari Tasawuf ke Tarekat.
Secara keseluruhan, buku itu menggambarkan tentang realitas ulama, pemikiran keagamaan dan kehidupan sosioreligius orang Aceh masa lalu jauh dari syariat. Dengan kajian kritis historis dari berbagai literatur yang ada, penulis mencoba memberi gambaran kehidupan beragama dan polemik pemikiran keagamaan dalam sejarah Aceh.
Prof. Dr. Ahmad Daudy, MA yang menulis pengantar berjudul, ‘tidak ada sufi di Aceh’ dalam buku yang terdiri dari tujuh judul ini mengungkapkan, Tasawuf Aceh kontemporer jauh berubah dari tasawuf di dalam sejarah, karena dari sisi sosiologis, manusia adalah produk lingkungan, sehingga dia akan selalu berubah seiring perubahan lingkungan.
Sementara Prof. Yusny Saby dalam tanggapannya menyebutkan, telah ada beberapa kajian mengenai tasawuf Nusantara sebelumnya, termasuk A.H. Johns, S.M.N Alattas, Abdul Hadi WM dan lainnya. Khusus tasawuf di Aceh belum banyak yang mengkajinya secara utuh.
"Saya melihat karya Sehat Ihsan Shadiqin dapat menjadi pencerahan secara menyeluruh. Karya ini akan menjadi bacaan bermanfaat bagi pengamat masalah sosial keagamaan, khususnya sufisme di Aceh," Puji Prof Yusni dalam buku itu.
Buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan; Islamikah masyarakat Aceh? Apakah ada syariat Islam dalam sejarah Aceh? Sepentas bisa dijawab tidak. Tidak ada syariat Islam dalam sejarah keislaman Aceh, apalagi qanun syariat. Kalau hari ini sebagai orang Aceh bangga dengan penerapan syariat Islam, maka itu adalah kebanggaan yang tidak ada dasarnya dalam sejarah.
waspada
http://acehlong.com/index.php?mod=article&cat=Religion%20News&article=1218&page_order=1&act=print
















