Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

12/24/2009

WAKIL MENAG BRUNEI KUNJUNGI ACEH

Wakil Menag Brunei Kunjungi Aceh
13 November 2009, 14:29 Kutaraja Administrator

BANDA ACEH - Wakil Gubernur (Wagub) Aceh, Muhamad Nazar, menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Agama (Menag) Brunei Darussalam, Yang Berhormat Pehin Udana Khatib Dato Paduka Seri Setia Ustaz Haji Awang Badaruddin Bin Pengarah Dato Paduka Haji Othman, di ruang kerja Wagub Aceh, Kamis (12/11) siang. Kedatangan Wakil Menteri Agama Brunei Darussalam yang juga Ketua Yayasan Sultan Haji Hasanal Bolqiah itu didampingi enam pengurus yayasan tersebut dan dua pejabat Kedubes Brunei Darussalam untuk Indonesia.

Sementara Wagub dalam pertemuan itu didampingi Kepala Biro Keistimewaan dan Kesra Setda Aceh, Saifuddin Harun, Kepala Badan Pembinaan Pendidikan Aceh, Bustami Usman, dan Kabag Humas Pemerintah Aceh, Nurdin F Joes.

Wakil Menag Brunei, yang ditanyai wartawan usai pertemuan itu, mengatakan, kedatangan pihaknya ke Aceh kali ini adalah untuk mengevaluasi sejumlah bantuan yang berasal dari Dana Masyarakat Besar negara itu kepada Aceh pasca tsunami. Bantuan itu, sebutnya, antara lain perumahan, masjid, pesantren, panti asuhan bagi anak yatim, puskesmas. Semuanya berada di Desa Mamplam, Kecamatan Leupung, Aceh Besar.

“Tadi pagi (kemarin-red) kami sudah meninjau masyarakat di Desa Mamplam, Leupung. Mereka mengeluh tentang ketersediaan air bersih. Tapi, untuk masalah itu saya kira bisa diselesaikan pemerintah daerah di sini. Namun ke depan kami akan berupaya membantu warga Mamplam dalam bentuk pemberdayaan ekonomi,” ujar Dato Paduka Seri Setia Ustaz Haji Awang Badaruddin Bin Pengarah Dato Paduka Haji Othman seraya menyatakan pihaknya juga siap bekerja sama dengan Aceh dibidang pendidikan, investasi, dan bidang lainnya. Selain itu, lanjut petinggi Kerajaan Brunei itu, bantuan lain yang telah disalurkan pihaknya ke Aceh adalah pembangunan masjid di Calang Aceh Jaya yang rencananya akan diresmikan besok (hari ini-red).

“Besok (hari ini-red) kami akan berangkat ke Aceh Jaya untuk menyaksikan peresmian masjid yang dibangun dengan Dana Masyarakat Besar Brunei yang disalurkan melalui Yayasan Sultan Haji Hasanal Bolqiah,” jelasnya seraya menyatakan pihaknya berada di Aceh selama empat hari, yaitu sejak Rabu hingga Sabtu (14/11) besok.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, mengucapkan terima kasih atas bantuan Kerajaan Brunei Darussalam untuk Aceh sejak tsunami hingga sekarang. Wagub berharap kerja sama antara Aceh dan Brunei Darussalam akan menjadi kerja sama yang permanen, khususnya dalam rangka meningkatkan kualitas SDM di kedua belah pihak. “Kerja sama yang mungkin kita lakukan antara lain dibidang pendidikan, ekonmoni, dan budaya.

Khusus di bidang pendidikan, ke depan kita berharap akan ada mahasiswa Aceh yang kuliah di Brunei dan juga ada mahasiswa Brunei yang kuliah di Aceh,” pungkas Wagub seraya menambahkan jika memungkinkan juga perlu dibuka penerbangan Aceh-Brunei dan sebaliknya dari Brunei ke Aceh.(jal)

http://www.serambinews.com/news/wakil-menag-brunei-kunjungi-aceh

9/21/2009

DISALAMI SEORANG PEJABAT



Seminggu yang lalu saya mendapat forward undangan dari salah satu Organisasi disini, mengenai kegiatan International Peace Day yang jatuhnya pada tanggal 21 September ini. Panitia penyelenggara memilih salah satu universitas yang ada disini sebagai tempat kegiatannya dengan Thema; Integrated Cyprus, antara lain diskusi, pameran ilustrasi dari seorang karikatur setempat beserta mengambari wajah anak-anak yang berlangsung selama 2 hari berturut-turut. Saya sendiri memilih hadir pada hari Pembukaan event yaitu hari ke-2, Jumat yang lalu yang diresmikan oleh salah seorang pejabat setempat yaitu Menteri Pendidikan.











Salah satu ilustrasi yang saya suka adalah 2 gambar manusia dari latar etnik yang berbeda bersama-sama memeluk sebuah bola bumi.

Sebelummnya saya memilih seorang kenalan untuk menemani saya kesana tetapi beliaunya menolak dengan alasan sibuk dengan kegiatan mengkalkulasi dan membayar ga ji mingguan karyawannya. Akhirnya saya memutuskan untuk datang sendirian saja.


Bapak Menteri Pendidikan masuk ke ruangan sambil menyalami tamu satu-persatu. Saya memilih berdiri yang terakhir menjauh dari mereka dan berusaha untuk "tau diri". Niatnya dari awal hanya datang sebagai pengunjung biasa dan untuk mendengar kata sambutan beliau. Itu saja.

Apalagi PR yang berikan oleh sang Mentor asing yang istrinya punya posisi cukup tinggi di European Commision disini telah saya kirimkan keduanya, jadi boleh santai sedikit. PR-nya sendiri cukup mudah bagi orang lain tetapi bagi saya...Judulnya, "Living Abroad is Educational" dan "Integrity in a New Home".


Setelah menyalami tamu yang terakhir, beliau meliat ke arah saya, lalu tersenyum. Saya kaget, ternyata beliau perhatian. Saya balas tersenyum sambil mengangguk sedikit, hormat. Melihat sikap santun saya, sang Menteri melangkah satu langkah lebar kearah saya, dengan cepat saya pun melangkah menghampiri dan menyambut salaman beliau. Beliau menyapa, "Hello..". Saya juga membalas, "Hello, Sir..". Lalu memperkenalkan diri dan GR...

Setelah berbincang dengan para tamu dan anak-anak sambil mengililingi ilustrasi-ilustrasi yang dipajang, beliau memberikan kata sambutan singkat dan tanpa text, lebih menekankan kepada pendidikan untuk anak-anak. Mungkin saja dikarenakan salah satu sponsornya adalah organisasi Hope for children Office for Children's rights. Seandainya saja kata sambutan beliau juga ditekankan kepada pendidikan untuk mengarahkan anak-anak agar mau membuka, membagi serta membaur kepada perpedaan yang ada disekitar dan take and give, tentunya akan menjadikan anak-anak tersebut kelak tidak akan racis atau fanatik akan etnik, agama mereka dan lain sebagainya. Bukankah "Fanatik" merupakan salah satu sumber kekacauan atau peperangan selama ini?

Sang Menteri ber-chit chat dengan anak-anak



Ber-chit chat dengan Illustrator dan wakil dari Universitas

Seorang panitia mengajak saya mengambil refreshment yang disusun diatas bar. Ada beberapa jenis snack lokal seperti Pie isi Zaitun cincang campur Parsley dan Pie isi Bayam campur Feta (keju Yunani dari susu kambing), minuman panas dan dingin. Kami berbincang-binang sejenak dan melihat-liat karikatur yang dipajang disekitar ruangan sambil menunggu sang Menteri pamitan, sedangkan kru ti-vi dan sebagian tamu yang lainnya sudah ciao duluan. Akhirnya beliau pamit juga, wah... kami didatangi dan disalami lagi. "Senang bertemu dengan Anda", kata beliau. Saya membalas sama.

Sekitar 2-3 jam kemudian, hujan badai datang. Suka sekali rasanya melihat kegiatan fenomena alam kiriman Tuhan seperti Angin keras dan Hujan yang bercampur Es...

Ternyata... angin puting beliung/topan bercampur hujan es, walaupun tidak begitu dahsyat tetapi menimbulkan kerugian material. Mobil-mobil tertimpa dahan-dahan dan pohon yang patah maupun tumbang dan pajangan baliho/billboard lainnya. Begitu juga kaca-kaca dan atap genting rumah/pertokoan di wilayah tertentu terbang dan pecah oleh terjangan angin dan hujan. Kalau fenomena alamnya mengakibatkan kerugian seperti seperti ini, siapa yang suka?


Hujan bola es..




Bola es..


1/14/2009

73*SYUKRAN-EFHARISTO-ARIGATO-THANK YOU= TERIMA KASIH

Dear Pembaca yang di Rahmati-Nya,

(Dirahmati dengan hati dan pikiran yang bersih dan jernih tentunya jauh lebih baik, bukan?).


Maaf banyak-banyak kalau saya tidak membalas sinyal-sinyal yang terkirim dan bertebaran diberbagai tempat atau sayanya yang GR-an, ada yang terbaca dan ada juga yang tidak, berhubung sedang ada hal lainnya yang sedang diurus (yang jelas bukan sedang menggoreng big fish-ikan asin Hering yang goblok dan geblek itu!). Apalagi selama ini buka internetnya hanya sekilas untuk melihat berita utama dari situs tertentu saja kalau ada yang menarik dibaca kalau tidak ya... tinggalkan. Kelas baru yang pernah saya sebutkan sebelumnya juga telah lama saya tinggalkan, ngeri... kok masih ada ya orang yang seperti di tengah rimba Afrika sana?


Merujuk tulisan saya dalam Inovasi berkomunikasi, makian yang yang ditujukan kepada saya mengingatkan saya kepada sistem legal orang primitif di benua Afrika. Kalau halaman anak sukunya dilangkahi, semua orang sekampung marah dan datang sambil membawa parang. Apa salahnya saya bersiar-siar atau membagi pengalaman sosial sehari-hari dikolom ini? Kalau ada anak sukunya nyeleneh kesana-sini dihalalkan. Bukankah lebih baik membina anak suku tersebut agar tidak berlebihan. Berlebihan inilah sebenarnya yang menjadi alasan kenapa ada WNI kok enggan bergaul dengan sesamanya di LN, atau kok ada pegawai KBRI ketus dengan rakyatnya sendiri...

Belajarlah dari anak-anak suku lainnya yang bertebaran di belasan ribu pulau di seluruh Indonesia. Banyak dari mereka yang bersiar-siar atau menetap di LN bersama suami WNA mereka tapi mereka lebih ....
(Jangan-jangan pembunuhan yang baru-baru ini terjadi yang mayatnya dimasukkan ke dalam kopor, ditujukan untuk saya?).


Baru-baru ini saya sempatkan diri bersiar-siar di Gunung Troodos yang ditutupi salju. Sebelumnya, sempat juga saya singgah disebuah perkampungan di anak kaki pegunungan yang sejuk dan tenang. Menikmati pemandangan alam dan keindahan ciptaan Tuhan. Duduk sebentar dengan seorang nenek dan membagi potongan cake yang saya bawa sebagai snack, oh.... senang sekali rasanya ketika si nenek menerimanya.

Khusus buat Ibu bermandila biru di pulau XX, saya juga setuju. Bahkan ada orang yang ber-ilmupun enggan menulis atau membagi ilmunya kepada generasi muda, bahkan yang ditulispun masuk ke kategori yang tidak perlu ditulispun ditulis, kata orang bijaksana.

Kita liat saja bagaimana generasi muda sekarang... bahkan seorang pengusaha, ekonom, pejabatpun... dilarang punya anak.


Kepada Bapak XXX juga setuju mengenai pentingnya philosophy kembali diajarkan kepada generasi baru. Disamping agar generasi baru mampu berfikir lebih dalam lagi juga mampu mengalisa psikologi diri. Jangan-jangan kita ini seorang Psychopath (jelasnya silahkan cari di google). Psycopath yang suka menzalimi orang lain, tidak memiliki empathy, tidak merasa bersalah, dll.

Entah kebetulan atau tidak, seorang kenalan menawarkan saya DVD American Psycho 2, diperankan oleh seorang nona manis dan digarap cukup menarik. Sayangnya, saya tidak sempat menontonnya kecuali secuil. Diceritakan mengenai awal perkembangan kepribadian sang nona manis tersebut yang kacau dikarenakan masa kecilnya yang tidak bahagia.

Sekali lagi kepada Bapak, Ibu, nona manis, oom ganteng dan semua yang lainnya (termasuk pemerintah atas perhatiannya belakangan ini) Terima kasih, Merci, Danke, etc.

Salam manis,

N

************************


16 Feb 2009.
Khusus kepada pemerintah, sudah saatnya TNI/militer dan sejenisnya yang ada di Aceh saat ini diganti dengan yang dari pulau-pulau lainnya. Bukankah Indonesia terdiri dari belasan ribu pulau?
Kekacauan selama ini yang masih berlangsung disana tidak jauh dari tangan-tangan mereka. Ingat peristiwa kekacauan di Lhokseumawe pada saat penarikan pasukan tersebut pada tahun 1999 (mereka sebenarnya enggan pergi dari sana), seorang kenalan saya pernah ditipkan sebuah bungkusan oleh seorang TNI yang ternyata berisi 3 butir granat. Sejak itu, si kenalan tersebut keluar dari keanggotaan TNI. Motif sebenarnya dia bergabung dengan TNI karena filosofi TNI yang mengagumkan, bukan karena hal lainnya.

Pelemparan granat didepan gedung partai lokal setempat, pembunuhan anggota partai baru-baru ini, pembacokan beberapa warga yang terjadi pada tanggal 15 Feb 2009 di Indrapuri, berikut menunjukkan bahwa Indonesia tidak dibenarkan memiliki partai lainnya selainnya dari etnis (suku) tertentu (atau juga karena tulisan inovasi berkomunikasi saya sebelumnya). Etnis-etnis lainnya dilarang untuk tampil dan harus selalu berada dibelakang, apalagi untuk menjadi pemimpin diharamkan.

Akhirnya timbul rasa superior dikalangan tertentu dan mendominasi seolah-olah Indonesia hanya milik orang dari suku tertentu saja. Lalu... kenapa tidak dibubarkan Indonesia, dan membangun Indonesia baru berdasarkan satu pulau atau etnis (suku) tertentu saja???
Semua ini terjadi disebabkan sistem pemerintah yang dijalankan selama ini memakai model jaman primitif, akibatnya ada sebagian kecil rakyatpun ikut-ikutan. Semoga pemerintah tidak lupa dengan hukum alam sebab akibat ini!

Pungutan liar yang terjadi pada sebuah pelabuhan setempat di bulan Ramadhan yang lalu mengingatkan saya pada pungutan liar yang marak terjadi pada era Orba. Saya sendiri pernah dizalimi ketika seorang pensiunan TNI non lokal menabrak kenderaan saya dari belakang. Polisinya yang saya lapori (non lokal) tersebut justru menahan STNK kenderaan saya. Ketika STNK tersebut saya minta, wah... saya dibentaknya karena tidak memberinya duit. Mana saya tahu kalau saya diwajibkan menebusnya. Pun saya tidak diperbolehkan mengklaim asuransi kenderaan tersebut seperti halnya paket pos saya yang hilang dulu tetapi enggan diganti oleh pos Indonesia. Ah... ada satu contoh lain tapi enggan saya tulis. Bosan...

Belum lagi mengingat bagaimana kejinya mereka selama masa-masa konflik. Saat sweeping dirumah-rumah penduduk, seluruh harta rakyat dan kerabat kami yang miskinpun habis dikuras.


***********************


Kepada generasi muda: bersiar-siarlah.... bumi ini indah. Semakin banyak bersiar-siar (sambil bekerja serabutan juga nga dosa) semakin luas wawasan dan pergaulan kita. Banyak perusahaan besar di Indonesia, kirimkan proposol minta sumbangan dana, dsb. Good Luck!!

***********************


Selingan:





Buah Tin


Salah seorang Konsultan (situsnya enggan saya cantumkan disini untuk menghindari kasus yang terjadi pada Michael yang sempat menyapa saya dalam kolom komentar), yang fotonya ada di my profile pernah bersekolah dan menetap di US cukup lama. Suatu kali dia pulang ke kampung halamannya dan kembali dengan membawa sebanyak 3 kg buah tin. Menurutnya, dia sangat suka sekali dengan buah tin dan memakannya dengan keju haloumi (dibuat dari susu kambing).

Di bagian Imigrasi, seorang petugas melarang membawanya keluar dikarenakan takut akan menyebar wabah baru. Diapun diminta untuk meninggalkan sebanyak 3 kg buah tin tersebut disana atau makan ditempat, alternatif yang ditawarkan. Diapun memilih memakan perlahan-lahan buah-buah tin tersebut. Kacau ngga ya perutnya hehehe...

Di Indonesia buah tin ini biasanya dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari mereka yang berhaji dalam bentuk kering.


Halaman (taman) sebuah Kantor, Summer 2008

12/09/2008

63*MENCARI MAKANAN HALAL

Assalammualaikum ww...

Ied Mubarak lagi. Selamat Idul Adha bagi yang menunaikannya.

Senangnya mereka yang meninggal ketika sedang berhaji atau yang sedang akan dan baru pulang dari haji.

Ada tidak yang bercita-cita ingin meninggal ketika sedang berhaji? Hehe...
Pertanyaan yang sulit dijawab.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya malam Paskah. Seorang kenalan minta ditemankan jalan-jalan meliat gereja-gereja mana yang membuat api unggun. Dapatnya diseebuah gereja di Ayios Andreas. Ketika kami tiba sekitar jam 12 tengah malam, apinya sudah mulai dibakar. Ternyata hehehe... apinya kebesaran.

Ngeri juga meliatnya, apalagi lidah apinya lebih tinggi dari gerejanya dan hampir menyambar mobil-mobil yang terparkir disekitarnya. Ketika saya tanya kepada kenalan tersebut, apakah anda percaya neraka? Jawabnya, iya. Lalu saya tanya lagi, kalau nanti anda mati kira-kira akan masuk neraka atau surga. Jawabnya neraka, Wah...

Wajahnya terlihat takut dan berfikir. Ternyata tidak rugi saya dijemputnya walaupun sempat menolak berkali-kali dengan alasan udaranya yang dingin dan mengantuk.

Orang-orang disini fanatik tapi tidak menjalankan kewajiban beribadah kepadaNya. Kuno kata mereka. Tapi mereka perduli sekali kepada sesama.

Contoh, ketika saya minta tolong diantarkan ke bengkel untuk menganbil kenderaaan saya, saya telfon seorang kenalan yang adalah seorang kepala Kepolisian disebuah pos kecil dia tidak menolak. Bahkan ada kepala bagian sebuah immigrasi yang sampai terliat basah sudut matanya karena tidak bisa memberikan saya izin untuk menyeberang ke negara sebelah untuk mencari makanan halal.
Beliau sempat menyebut sebuah nama jalan dimana banyak menjual makan halal. Saya tolak dengan alasan bosan dengan makanan Arab terus.

Kami berbincang-bincang lumayan lama seperti telah pernah kenal sebelumnya. Bahkan ada seorang kenalan saya yang berpangkat Kolonel, setiap kali berada disalah satu cafe favouritenya dan MINUM, tidak pun tertarik untuk menayakan dokumen para Immigran sekitar yang legal atau illegal. Cuek...
Bahkan ketika beliau bekerja dibagian Immigrasi, dulunya sering menolong Immigran yang minta menetap disini dengan mudah, sadar akan kelemahannya beliau minta pindah ke pos lainnya.

Saya berbicara dengan semua orang disini, miskin-kaya, cantik-tidak cantik, orang kota-orang kampung, termasuk dari afrika dan juga dengan anak-anak. Kadang-kadang para anak-anak bertepuk tangan ketika saya lewat. Pernah juga satu bis besar semuanya terdiri dari anak SMA laki-laki memberi tanda tangan keluar jendela agar terliat oleh saya. Huih.. GR!

Bukan karena saya cantik, No, I am not beautifull tapi karena kenderaan yang saya gunakan lumayan cute untuk mereka.

Pengalaman kecil, tetapi manis. Kadang-kadang ngeri juga dengan anak-anak tanggung seperti mereka. Bandelnya itu...

Kembali ke makan di negara bagian Utara. Terakhir kali saya kesana, beberapa waktu yang lalu ketika mencari info untuk jalan-jalan ke Istanbul dan tentunya mencari makanan yang telah matang maupun beku siap jadi. Bosan masak Lasangna dan Moussaka terus. Moussaka yaitu irisan kentang dan terong goreng disusun diatas pirex, lalu ditutup dengan Bechamel Sauce (campuran susu, butter dan terigu), kemudian dimasak didalam oven.

Secara tidak sengaja saya melihat Coat (pendek)murah meriah made in Turkey seharga setengah harga. Rugi rasanya kalau tidak diambil.
Akhirnya... karena belanjaan tersebut, sayapun dicegat oleh seorang petugas dan.... setelah itu saya dilarang kesana lagi. Hiks... sedih. Padalah makanan Turki termasuk makanan favourite saya dan ke Istanbul pun batal.



11/28/2008

72*INOVASI BERKOMUNIKASI

Akhirnya lahir juga kelas baru khusus buat mereka yang beda kelas. Di dalam agama yang saya anut, katanya berbagi ilmu itu ibadah, atau juga menyembunyikan ilmu sama dengan dosa.
Khusus bagi yang lapar ilmu atau sekalian yang ingin mencurinya atau juga ingin agar tertular silahkan saja dekat-dekat ke kelas baru tersebut.

Dijamin, engga ada tulisan sekelas ... atau foto-foto sekelas ... muncul tiba-tiba, kata anak-anak dibelahan bumi sana. Maaf dulu... mantan salah seorang pembantu kami yang sekolahnya hingga SMP wajahnya boleh juga tuh! Apalagi pancaran matanya yang bersih dan bening (hidup), menunjukkan cermin hatinya. Katanya, salah satu mata Demi Moore palsu (mati). Ada yang tau?

Baiknya, Asosiasi TKW RI juga memberi kesempatan dan wadah kepada masyarakatnya yang ingin menjadi figur di kelasnya masing-masing. Contoh, setiap tahun para TKW dari Filipina menyelenggarakan Miss-missan (bukan mimisan hehehe..) ala mereka di Luar Negeri. Beritanya muncul di koran setempat, taunya di tahun 1990-an di Malaysia dan 14 Feb 2008 di pulau ini. Para modelnya yaitu mereka-mereka yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga. Kalau Filipina bisa, kenapa Indonesia tidak?

Dengan membentuk komunitas masing-masing kita saling berkomunikasi: berbagi dan belajar, bukannya berperang. Terutama manners kita yang malu-maluin. Katanya sopan-santun kita mencerminkan bangsa kita. Semakin maju peradaban, maju pula mentalitas kita.
Lalu... belajar mengenal komunitas-komunitas lainnya. Inilah salah satu tujuan Allah Swt (Tuhan) menciptakan manusia.

Jadi ingat komentar seorang Imigran dari Bulgaria di dalam sebuah harian berbahasa Inggris di sini. Katanya kira-kira seperti ini, "This Island is a big Village...". Tentu saja.
Masyarakatnya mapan, keren, dan cantik-cantik, tapi mentalnya.... tidak ada bedanya dengan mereka-mereka yang datang dari dunia ke-3 seperti kita Indonesia. Sempit, dan merasa hanya kitalah yang ter-Best. Tentunya, tidak semuanya!

8/07/2008

53*KIRIMAN POS, IKAN ASIN, PENAMPILAN


Sabtu yang lalu seorang adik saya di pulau 2 mengatakan "barang telah sampai. tq". Kemarin seorang adik yang satu lagi di pulau 3 mengatakan "kiriman udh sampai. Thx". Sedangkan barang terdaftar yang saya kirim akhir tahun 2006 hingga sekarang tidak tau di ambil oleh siapa. Kata pegawai kantor disini telah diterima, tapi siapa ya yang menerimanya?

Si pegawai post menawarkan saya paket EMS Posdata, langsung saja saya iyakan. Sempat juga saya perhatikan seorang TKW dari Cina minta ganti kotak kiriman yang lebih kecil yang isinya hanya sehelai celana jeans, si pelayan melayani dengan sabar. Semua orang maklum dengan hal-hal kecil seperti itu menolong costumer mengirit. Kalau di Indonesia mungkin telah dikatakan pelit, tidak punya duit dsb...
Semoga saja jeans kirimannya bukan Made in China hehehe....

Jadi ingat cerita seorang keluarga yang baru pulang dari Haji. Salah satu oleh-olehnya untuk seorang keluarga adalah sajadah. Seseorang terusik ingin tau buatan dari mana sajadah tersebut, tiba-tiba dia memekik, "Made in Indonesia" hehehe.... Padahal di pasar juga banyak!!!!! Kenapa harus jauh-jauh belinya???

Dua minggu yang lalu saya sempat jalan-jalan ke kota yang berdekatan dengan pantai, ada yang dicari. Namun toko-toko semuanya pada tutup, tutup liburan musim panas selama 2 minggu. Gelombang panas disana lumayan juga dibandingkan dengan di ibukota yang berjarak hanya 44 km berkisar 41 derajat celsius. Hilang semua energi dan mood dibuatnya, lalu saya nongkrong sebentar di KFC, hanya mesan kentang goreng dan coke. Yang lainnya tidak jelas kehalalannya.

Tiba-tiba satu keluarga mendatangi meja disebelah atau dibelakang saya. Setelah beberapa saat, saya perhatikan mereka, satu keluarga dengan anak-anak yang telah remaja dan asisten rumah tangga mereka berasal dari Sri Lanka. Sedih melihat penampilannya yang begitu kumuh dan sangat sangat sederhana. Yang mengagumkan justru adalah keluarga tersebut yang mau membawa asisten mereka jalan-jalan bagaikan keluarga mereka sendiri. Saya sempat meliat ada sebuah kotak burger di depannya, walaupun tadinya dia menolak.
Apa ada orang Indonesia seperti itu!!!!

Ingat ke Indonesia dulu, tepatnya di sebuah KFC di Jakarta. Sepasang suami istri duduk di satu meja, sedangkan si bayi bersama si nanny di meja belakang. Di depannya hanya ada sebotol Teh Botol. Cukup kontras....
Bahkan banyak juga yang menjatah makanan satu hari satu kali untuk asisten-asisten rumah tangga mereka.

Menilai seseorang dari cara berpakaian sebenarnya adalah kesalahan besar. Saya pernah terkecoh dengan seorang perempuan di Indonesia. Setiap kali datang selalu berdandan bagus dan ternyata pinjaman (maksa) dari adiknya yang telah menikah. Sedangkan beliaunya sendiri belagu luar biasa, ketus dan bossy, (hiks... rugi terus kita dibuatnya). Mereka tinggal didalam lingkungan kebun kelapa (Lampoh U) yang cukup luas kecuali adiknya yang telah menikah tersebut. Terakhir saya mengantarnya, yaitu dimalam hari sekitar jam 8 malam. Jalan menuju ke kebun kelapa tersebut lumayan kecil, lalu masuk ke kebun tersebut melalui jalan yang lebih kecil lagi yang dipagari dengan pohon kuda-kuda dan kawat berduri. Ada belokan double bend pendek ditengahnya agar dari jalan tidak langsung telihat rumah yang mereka tempati yang masih tergolong baru terdiri dari 2 pintu atau 2 keluarga. Ketika memasuki double bend pendek tersebut kami sempat terkesiap dan kaget luar biasa tapi sama-sama diam pura-pura tidak tahu. Lampu kenderaaan saya menyenter seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun berdiri sendirian di tempat gelap dengan kedua tangannya memegang pohon kuda-kuda, hiiiiiiii............

Giliran pulang... (no comment), aduhhhhh.... siapa berani????

Ada yang menarik disini, saya lupa dengan semua ayat-ayat Al Qur'an yang saya kuasai, rasanya menyesal luar bisa. Tidak ingat ayat apa yang saya baca, yang jelas bisa juga akhirnya keluar dari "sarang" tersebut, hehehe...

Salah seorang anak pemilik Hotel terkenal disini (nama hotelnya cukup terkenal diseluruh dunia), istrinya adalah seorang WN Jerman. Beliau ikut bekerja sebagai kepada Receptionist di hotel tersebut. Sedangkan penampilannya, jauuuuuuuuhh..... dari berkelas.
Hebat euy......!!!!!


Kembali ke kantor pos. Duh EMS Posdata harga per setengah kilonya tinggi sekali.... sama dengan harga ikan asin. Ikan asin disini termasuk makanan mewah, apalagi ikannya Herring. Sedangkan rasanya kelas terakhir hahaha.... bagaimana tidak, baunya saja luar biasa busuk kalau digoreng belum lagi rasa garamnya garam semua semua... hihihi...
Mungkin karena kebanyakan garam maka ikannya herringnya tidak kering tetapi lunak. Beda dengan ikan asin dari Rusia, selain kering rasanya juga seperti ikan asin di Indonesia. Harga ikan herring Euro 18.00/kg sedangkan ikan asin dari Rusia berkisar dari Euro 11.00- Euro 16.00/kg. Daging sapi Euro 6.15/kg, Ayam segar Euro 3.80/kg, dan Ayam beku dari Brasil (halal) Euro 3.00/kg.

Saya sendiri hanya satu kali membeli ikan asin herring. Karena tidak sanggup memakannya, saya campur dengan tumisan kol, lumayan juga rasanya apalagi tumisan kolnya tidak perlu memakai garam lagi.
Kurang jelas dengan masyarakat disini bagaimana mereka mengolahnya, ada yang bilang di grilll, wow...!!!!

Sekarang di semua toko-toko Summer Sale besar-besaran hingga 70% disc. kecuali ikan asin. Sepertinya rugi kalau tidak ikutan belanja, sekalipun hanya untuk kiriman ke Indonesia. Kapan lagi kalau bukan musim panas, di Indonesia kan tidak ada musim dingin.

6/28/2008

52*SOPAN SANTUN BAHASA

Sopan santun dalam berkomunikasi baik yang dilakukan seseorang dalam bentuk verbal maupun non-verbal membias kuat kepada si pelakunya. Mulutmu adalah harimaumu, kata peribahasa Indonesia.
Seseorang sering melakukan kesalahan vatal tanpa disadarinya akibat kurang memakai "akal" dan efek negatif yang dibiaskan justru merugikan dirinya sendiri, apalagi dilakukan di depan publik yang ramai, baik dikalangan atas maupun bawah.
Ini benar-benar memalukan.

Merendahkan dan menghina orang lain, tanpa disadarinya dia telah memperlihatkan betapa rendah dan hina si pelakunya. Apalagi yang diikuti timbal balik, akhirnya sama-sama terlihat sama. Ingin populer karena wajahnyanya yang rupawan, malah populernya karakternya yang melawan...

Ini akibatnya kalau tidak ada kontrol diri atau tidak dewasa (premature minded?) dalam bersikap dan mengambil tindakan yang seharusnya menjadi salah satu unsur atau ciri membentuk seseorang berkepribadian manis atau menarik seperti gentleman, ladylike, ladybug, ladybirds.... hehehe...

Biasanya "ladybird" ditujukan untuk kaum adam yang suka berperang dengan kaum hawa hanya hal-hal kecil atau sepele, melalui ucapan, tulisan maupun tindakan seperti menembak tewas seseorang karena cintanya ditolak. Luar biasa macho, atau merasa jantan...!!!
Padahal banyak hal lain agar terlihat hebat (macho atau jantan), seperti menundukkan banteng misalnya.

Disini, juga ditujukan untuk kaum adam yang melakukan hal-hal negative seperti peran sitcom yang pernah kami lakukan dulu sebagai pendatang illegal. "Welcome ladybirds... ", sambut si penjaga pantai kepada kaum adamnya...

Nabi Muhammad SAW sangat terkenal dengan sopan santunnya, justru menjadi pertanyaan kenapa bangsa Arab sekarang begitu kasar dan tidak beradab?
Ketika berperang membela agama bukan berperang melawan kaum hawa, beliau hanya mewajibkannya kepada kaum adam. Sedangkan kaum hawa, orang berusia lanjut dan anak-anak justru dilindungi di rumah.

Dalam Islam, baik atau buruk karakter seorang anak terbentuk ketika si bayi masih berada didalam kandungan. Bapak Eric Darwin Ph.D mengatakan ketika si bayi lahir.

Semoga seluruh orang Indonesia yang menetap di pulau 1, 2, 3.... atau etnis X, W, Z... berkarakter bagaikan gentleman dan ladylike semua.
Semoga ketidak berbiadaban kita dalam berbahasa yang diikuti meletusnya Mei'98 di pulau Jawa, cukup menjadi pelajaran yang mahal dan tidak mungkin terbelikan kembali.
www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/05/12/0007.html


__________________________



BERBAHASALAH DENGAN SOPAN SANTUN

Oleh KARNITA, S.Pd.

BAHASA menunjukkan cerminan pribadi seseorang. Karakter, watak, atau pribadi seseorang dapat diidentifikasi dari perkataan yang ia ucapkan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang sarkasme, menghujat, memaki, memfitnah, mendiskreditkan, memprovokasi, mengejek, atau melecehkan, akan mencitrakan pribadi yang tak berbudi.

Tepatlah bunyi peribahasa, "bahasa menunjukkan bangsa". Bagaimanakah sebenarnya tingkat peradaban dan jati diri bangsa tersebut? Apakah ia termasuk bangsa yang ramah, bersahabat, santun, damai, dan menyenangkan? Ataukah sebaliknya, ia termasuk bangsa yang senang menebar bibit-bibit kebencian, menebar permusuhan, suka menyakiti, bersikap arogan, dan suka menang sendiri.

Bahasa memang memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu suatu kebijakan yang berimplikasi pada pembinaan dan pembelajaran di lembaga pendidikan. Salah satu bentuk pembinaan yang dianggap paling strategis adalah pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa lainnya di sekolah. Dalam KTSP, bahasa Indonesia termasuk dalam kelompok mata pelajaran estetika. Kelompok ini juga merupakan salah satu penyangga dari kelompok agama dan akhlak mulia. Ruang lingkup akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral.

Kelompok mata pelajaran estetika sendiri bertujuan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan itu mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mesyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.

Tujuan rumpun estetika tersebut dijabarkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang bertujuan agar peserta didiknya memiliki kemampuan antara lain (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis dan (2) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Tujuan tersebut dilakukan dalam aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Pelajaran bahasa Indonesia telah eksis sejak dulu dari tingkat SD sampai PT. Di SD pelajaran ini mulai diberikan di kelas IV-VI, alokasinya 5 jam per minggu atau 15,63% dari total alokasi jam pembelajaran, SMP 4 jam atau 12,5%, di SMA kelas XI 4 jam atau 10,53%, kelas XI dan XII 4 jam atau 7,69%. Alokasi itu diperkuat lagi dengan pelajaran bahasa Sunda sebanyak 2 jam setiap minggunya. Di PT, bahasa Indonesia termasuk dalam MKDU, minimal 2 SKS. Ini menunjukkan bahwa kedudukannya dalam kurikulum pendidikan formal begitu utama dan strategis.

Ironisnya, eksistensi dan besarnya alokasi jam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah saat ini belum memberikan kontribusi dan korelasi yang berarti terhadap tumbuhnya kesadaran penggunaan bahasa secara verbal yang lemah lembut, santun, sopan, sistematis, teratur, mudah dipahami, dan lugas. Pelajaran tersebut harus diakui belum mampu membangun nilai-nilai estetika dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan pembelajarannya masih bersifat kurang komunikatif, dikotomis, artifisial, verbalistis, dan kognitif.

Kegagalan menanamkan pendidikan nilai melalui pembelajaran bahasa Indonesia ini tercermin pada perilaku berbahasa yang tidak mengindahkan nilai-nilai sopan santun. Kegagalan ini sedikit banyak telah memberi andil pada terjadinya tindak kekerasaan di masyarakat, perseteruan di tingkat elite, dan ikut memengaruhi terjadinya pelecehan terhadap nilai-nilai luhur yang dihormati bersama.

Menurut pakar bahasa, I. Pratama Baryadi dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terdapat korelasi antara bahasa sebagai lambang yang memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antarmanusia dengan kekerasan yang merupakan perilaku manusia yang hegemonik-destruktif.

Dua korelasi itu, pertama, bahwa bahasa dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan kekerasan sehingga menimbulkan salah satu jenis kekerasan yang disebut kekerasan verbal. Wujudnya terlihat dalam tindak tutur seperti memaki, membentuk, mengancam, menjelek-jelekkan, mengusir, memfitnah, menyudutkan, mendiskriminasikan, mengintimidasi, menakut-nakuti, memaksa, menghasut, membuat orang malu, menghina, dan lain sebagainya.
Kedua, bahasa yang tidak digunakan sesuai dengan fungsinya akan menjadi pemicu timbulnya kekerasan. Fungsi hakiki bahasa adalah alat komunikasi, alat bekerja sama, dan pewujud nilai-nilai persatuan bagi para pemakainya. Dalam teori percakapan, ada dua prinsip penggunaan bahasa yang wajar-alamiah, yaitu prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan.
Prinsip kerja sama menganjurkan agar komunikasi verbal dilakukan dengan bentuk yang lugas, jelas, isinya benar, dan relevan dengan konteksnya. Prinsip kesopanan menganjurkan agar komunikasi verbal dilakukan dengan sopan, yaitu bijaksana, mudah diterima, murah hati, rendah hati, cocok, dan simpatik.

Sejalan dengan itu, dalam ajaran Islam ada yang disebut dengan dosa lisan. Dalam Q.S. Al Qalam [68]: 10-11), "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi menghina. Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah". Larangan itu dipertegas lagi oleh dua hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Hadis pertama berbunyi, "Orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya berkata baik. Atau, (jika tidak bisa) lebih baik diam". Bunyi hadis kedua, "Orang yang disebut Muslim adalah orang yang bisa menjaga tangannya dan lisannya (dari menyakiti Muslim lain)". Begitulah ajaran agama mengatur etika dan anjuran berbahasa dengan baik dalam lehidupan.

Anjuran tersebut juga relevan dengan pepatah lama yang menyebutkan lidah atau lisan bagaikan pedang. Jika lisan telah mengibaskan ketajaman mata pedangnya di hati, rasa sakit dan lukanya akan berbekas untuk waktu yang lama. Penyimpangan (deviasi) prinsip-prinsip tersebut dapatlah memicu timbulnya kekerasan. Sebagai contoh, berbicara kasar, berbicara saja tanpa tindakan, berbicara bohong, berbicara dengan keras, tidak jelas, menyakitkan, menyinggung perasaan, merendahkan orang lain, dan tidak transparan.

Dalam praktik sehari-hari, perilaku berbahasa yang tidak mengindahkan nilai-nilai dan hakikat fungsi bahasa seperti itu semakin banyak ditemukan di masyarakat kita saat ini. Perilaku yang tidak terpuji ini ironisnya banyak dilakukan di alam reformasi. Apakah ini merupakan cerminan dari euforia demokrasi yang kebablasan. Entah apa. Perilaku berbahasa yang buruk itu dilakukan oleh semua lapisan: golongan bawah, golongan menengah, bahkan elite politik negeri ini. Sindir-menyindir, saling menghujat, provokasi, dan saling mengancam tidak asing terdengar keluar dari mulut para pemimpin.

"Mulutmu harimaumu", itu kata pepatah yang masih tetap relevan. Akibat dari penggunaan bahasa yang tidak terpuji itu kini masyarakat dan elite politik mudah sekali bermusuhan, melakukan tindak anarkis, merusak, dan lain sebagainya.Pendek kata, negeri ini sangat rentan dan rawan dengan konflik-konflik, friksi-friksi, perkelahian, pembunuhan, dan perusakan yang tak berkesudahan.
Dalam rangka reformasi pendidikan, selayaknyalah dipikirkan juga bagaimana sekolah dapat berperan agar anak didik khususnya, dan masyarakat pada umumnya tidak berbahasa untuk melakukan tindakan kekerasan dan tidak memicu kekerasan. Hendaknya anak didik berbahasa Indonesia yang sopan dan beradab, yang berfungsi memelihara serta membangun kerja sama kerukunan.

Beberapa hal yang dapat dipikirkan yaitu pertama, sekolah hendaknya memberi penghargaan yang wajar pada bahasa dan budaya. Kedua, pelajaran bahasa menggunakan pendekatan komunikatif tetap menekankan perlunya kesopanan berbahasa. Ketiga, semua warga sekolah dikondisikan dan disiplinkan untuk berbahasa dengan sopan.
Tentang berhasa yang sopan ini, sangat selaras dengan sabda Rasul yang mulia, "Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang makruf da mencegah yang mungkar, kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam menyuruh dan melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang, dan adil terhadap apa yang harus dilarang".

Berdemonstrasi menyampaikan tuntutan dan aspirasinya adalah hak setiap orang yang mesti diperjuangkan. Namun penyampaian itu hendaknya disampaikan secara beretika. Aksi-aksi jangan seakan membenarkan atau melegalkan kata-kata sekasar apa pun dilontarkan di depan publik. Stoplah sudah kata-kata yang mengumbar bibit-bibit kebencian, membakar amarah, memancing emosi, mendorong anarkisme, dan menebar provokasi. Hentikan kata-kata yang hanya memancing kericuhan dan bentrokan fisik dengan aparat atau pihak lain. Demikian juga dengan para pemimpin bangsa, hendaknya menjunjung etika berbahasa. Perilaku berbahasa pemimpin bangsa dan elite politik yang kerap menimbulkan perseteruan telah berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat di level akar rumput. Semua itu hanya menghabiskan energi dan membuat rakyat semakin menderita.

Momentum Idulfitri yang melambangkan kesucian hati dan peringatan Bulan Bahasa yang dilakukan tiap bulan Oktober ini seyogianya dapat menggugah kesadaran berbahasa dengan sopan dan santun. Bagi dunia pendidikan, pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa lainnya diharapkan mampu menginternalisaikan dan mengartikulasikan nilai-nilai etika berbahasa dalam perilaku verbal kita sehari-hari. Pusat Bahasa yang berotoritas membina dan mengembangkan bahasa hendaknya lebih berperan nyata lagi dalam mendorong masyarakat menggunakan bahasa Indonesia yang santun. Lembaga ini jangan hanya berkutat pada riset-riset dan pembakuan bahasa yang hanya menjadi "menara gading" bagi masyarakatnya.
Karena bahasa mencerminkan pencitraan pribadi, jati diri bangsa, dan keselamatan hidupnya, sejatinya pemimpin bangsa, elite politik, masyarakat, dan setiap diri berupaya menggunakan bahasa dengan sopan, santun, dan beradab. Wallahu a'lam.***

Penulis, guru bahasa dan sastra Indonesia di SMAN 13 Bandung.

http://www.scribd.com/doc/902274/Berbahasalah-dengan-Sopan-dan-Santun

6/27/2008

50* LADY


Minggu yang lalu, saya diminta mengirim sebuah paket kecil keluar kota atas permintaan si Boss. Tunggu punya tunggu, si kurir dari perusahaan yang saya telefon tersebut tidak muncul-muncul.
Setelah di-komplain melalui telefon, dengan tidak simpatik si karyawan meminta saya untuk datang ke kantornya yang terletak hanya beberapa puluh meter dari tempat saya bekerja.

Tanpa senyum sedikitpun (karena kecewa)saya menyapa mereka disana dengan sapaan "formal" dan meminta pengantaran dilakukan segera, tetapi si receptionist mengatakan pengantaran selanjutnya dilakukan setelah 2 jam sedangkan si Boss mengiginkan segera. Saya memohon kepadanya bahwa barang itu sangat penting dan meminta agar dikirimkan melalui kenderaan penumpang.

Seseorang yang mungkin adalah si Boss dari perusahaan tersebut tiba-tiba berbicara kepada saya. "Lady... jika anda ingin barang ini dikirim segera, anda bisa meminta langsung kepada si sopirnya di dekat station sana", katanya sopan. Ah... pasti si Bapak ini pernah lama tinggal atau bersekolah di LN pikir saya.

Saya kagum sekali dengan manners-nya tersebut dan itu adalah sepertinya yang ketiga yang pernah saya dapatkan selama tinggal disini. Karena, biasanya sayalah yang sering menggunakan sebutan atau kata ganti orang tersebut untuk clients kami.

Berikut, apa dan siapa "LADY" itu sebenarnya?


A LADY DEFINED

The attributes of a great lady may still be found in the rule of the four S's: Sincerity, Simplicity, Sympathy, and Serenity. - Emily Post Thoughtfulness for others, generosity, modesty and self-respect are the qualities which make a real gentleman or lady. - Thomas H. Huxley

Lady n. ... (corresponding to gentleman, a woman of good family and good manners and some claim to social position; a woman with good manners and refinement in any class of society; a woman of any kind, whether of high or low social position or with or without good manners and refinement. (From the above it will be seen that the word has now become vague in meaning and is better avoided.) ... - The Advanced Learner's Dictionary of Current English, 1957

BEING A LADY !

"And now when everything is made as simple and striking as possible, there probably is no time to develop such a complicated characteristic as "being ladylike" (in its former soulful meaning). ... the former concept "lady" meant also beauty. Not the beauty of features or clothes, but a graceful behavior coming from self-control. A lady is not loud-voiced, her laughter is not shrill, she moves freely and peacefully. Everything in her is beautiful even when she is homely. ...


In the era of competition the ideal of woman has become somewhat hard and "efficient". Perhaps this will be once overcome when a real lady steps forwad, in her refined and composed brilliancy." - Kersti Bergroth, Finnish writer, theosophist

In our modern classless society the word lady is often used just as a synonym to a woman, without any of its previous connotations. Still, Lady Quote would like to see the word lady to retain some of its best connotations, not referring to an upper class in society, but to high-class women in a mental or spiritual sense, to ladies who have manners and kindness of heart, who behave in ladylike fashion, with style and dignity.


*Apakah kita juga layak disebut "lady...?". Hehehe....

http://www.geocities.com/ladyquote

49*ELITE DAN RUANG PUBLIK

10 Mei 2008

Elit dan Ruang Publik
Oleh Agung Y Achmad


PREDIKSI mengenai rendahnya partisipasi masyarakat dalam Pilgub Jateng, yang akan digelar 22 Juni mendatang, pantas dicermati. Gejala ini telah dimulai pada penyelenggaraan pilkada di Kudus dan Pati, yang masing-masing hanya diikuti 53 persen dan 47 persen warga yang memiliki hak pilih (Suara Merdeka, 24 April 2008). Mengapa hal itu terjadi? Beragam jawaban bisa diberikan. Tetapi yang cukup valid adalah sikap putus asa masyarakat terhadap tingkah laku para elite. Rakyat merasa berbagai harapan manis terhadap sistem demokrasi pupus bersamaan dengan munculnya ’’pesta’’ (korupsi, nepotisme dan kolusi) di tingkat elite. Untuk apa memilih pemimpin baru jika pada akhirnya para elit tidak mampu membawa perubahan yang lebih baik. Demikian kira-kira suara-suara dari akar rumput.

Dus, inilah saatnya bagi elite untuk merendah, mengerti, dan berempati kepada pemilik hakiki kekuasaan, yakni rakyat. Berikan ruang lebih luas kepada rakyat untuk mengambil peranan, sehingga mereka dengan suka rela berpartisipasi di dalam proses politik. Dalam wacana demokrasi, hal ini disebut sebagai ruang publik (public sphere). Sikap-sikap etis elite ini harus tercermin pada proses komunikasi politik para kandidat selama kampanye, kelak. Komunikasi BurukSeperti sering kita saksikan, para kandidat kepala daerah sering berorasi mengobral janji manis di depan massa pendukungnya saat kampanye. Di pasar-pasar, misalnya, banyak aksi yang mereka lakukan. Boleh jadi, hal itu merupakan pengalaman pertama kali mereka sepanjang hidupnya, seperti menggendong dan menciumi anak kecil, atau aksi beli cabe dan aneka barang lainnya. Semua ini sekadar meyakinkan bahwa ia adalah kandidat yang dekat dengan pedagang kecil (baca: rakyat). Benarkah? Apakah itu tak lebih dari sekadar tebar pesona?

Kunjungan seorang politisi ke pasar sebagai ajang kampanye tentu saja bagus. Acara ’’merakyat’’ seperti itu akan lebih substansif apabila sang kandidat memiliki argumen yang benar mengenai mengapa harga cabe keriting per kilogram jatuh pada nominal tertentu. Ia juga tahu berapa besar upah yang diterima kuli, buruh pasar, atau petani sayur. Ia tahu nasib pedagang akibat kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini, dan seterusnya. Jadi, bukan sekadar tahu daftar harga barang (karena sebelumnya sudah dihafalkan!).

Para elite selama ini tidak cukup peka dan cerdas memanfaatkan kesempatan bertemu dengan akar rumput. Ketidakpekaan itu tercermin dalam melakukan komunikasi nonverbalnya. Sebut saja ketidaktepatan dalam pemilihan kostum yang dikenakannya. Dengan gaya ’’pede’’, para kandidat datang ke pasar-pasar tradisional dengan mengenakan kostum batik sebagaimana kehadirannya di acara resmi. Terkadang memakai safari necis, atau kemeja lengan panjang dan berdasi, yang tentu berharga mahal untuk menyapa masyarakat bawah. Penampilan semacam ini jelas merupakan penghalang bagi para kandidat (atau memang tak berkemauan ?) sebelum masuk lebih jauh hingga ke titik yang substansif. Bagaimana komunikasi dapat berlangsung apabila mereka telah menciptakan jarak psikologis dengan para calon pemilihnya?

Bukan hanya memunculkan jarak emosional, pemilihan kostum elite seperti ini bisa-bisa malah diartikan publik sebagai bentuk penghinaan secara kategoris terhadap lapisan sosial bawah. Kenapa seorang calon kepala daerah, misalnya, tidak mengenakan pakaian lengan panjang yang dilinting? Sebagai calon publik figur, soal pilihan kostum seperti ini tak bisa dipandang sebagai tampilan belaka. Di balik singsingan lengan baju itu terpancar makna simbolik, bahwa sang kandidat telah siap bajunya kotor terkena debu, bau amis, dan ikhlas berkeringat, sebagaimana kebanyakan warga sipil di pasar. Penampilan empati seperti ini, meski tidak mutlak, merupakan prakondisi yang diperlukan di dalam suatu komunikasi (politik) yang efektif.

Menyelami Masyarakat

Hal itu berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Presiden George W Bush saat ia tengah menuai kecaman keras masyarakat AS, bahkan dunia, akibat kebijakan invasi ke Irak tahun 2003. Sang Presiden mendatangi markas tentara dan mengajak para serdadu bernyanyi serta bertepuk tangan penuh riang. Di sana, Bush berorasi membangkitkan semangat nasionalisme.

Bagaimana dengan penampilan Bush?

Ia membuka kancing baju teratas, juga mengendurkan dasinya. Ia juga berkeliling menyapa serta menyalami para tentara dengan genggaman tangan yang mantap. Orang boleh saja tidak bersepakat soal kebijakan Gedung Putih tentang invasi Amerika terhadap Irak yang kontraversial itu, yang sarat dengan motif-motif tertentu yang tidak bisa diterima standar etika masyarakat internasional. Namun apa yang ditunjukkan Bush merupakan ekspresi yang diperlukan dan niscaya bagi keberadaan seorang pemimpin atau elite di ruang publik. Sebab ruang publik di dalam dinamika demokrasi sama pentingnya dengan rapat-rapat resmi dewan.

Kalau ditilik dari pemikiran Habermas tentang public sphere, kehadiran elite atau pemimpin di ruang publik mesti dilakukan untuk mencapai pembentukan opini dan kehendak (opinion and will formation) serta mewakili kepentingan umum.Meskipun tetap saja kunjungan itu bersifat resmi, sang pemimpin harus bisa menyelami situasi kejiwaan masyarakat, yang pada taraf tertentu bisa dianggap mewakili warga secara keseluruhan. Dari sana komunikasi politik bisa dilakukan dengan mulus. Banyak politisi di negeri ini tidak piawai memanfaatkan public sphere sebagai wahana komunikasi antara lembaga-lembaga politik dan akar rumput. Mereka telah sedemikian jauh memaknai politik sebagai who gets what and when, sehingga rakyat tak dianggap sebagai faktor penting. Bahkan, lebih sedih lagi, banyak elite yang ingin diidentifikasi publik sebagai kalangan atas atau berkelas ningrat. Maka, wajar apabila aspirasi rakyat selalu gagal dipahami banyak elite.(32)

–– Agung Y Achmad, editor, peminat bidang komunikasi politik, tinggal di Jakarta.

http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=12845

____________________________
* Ayah saya selalu mencomot dasinya setiap kali singgah dipasar/shopping centre dalam perjalanan pulang ke rumah, semasa bekerja di negara tetangga.
Kata beliau, "tidak bagus diliat orang".
Seorang Sufi memang berbeda dari orang kebanyakan, jauh dari barang-barang yang "wah atau exclusive".
Orang-orang bilang kepada saya,"Your father is a Great man". Dan beliau sendiri pernah bercerita kepada saya jika mereka (Ayah dan Ibu) datang ke KBRI seperti untuk melaksanakan acara keagamaan bersama dengan para elite dan professional dari Indonesia lainnya di bulan Ramadhan, orang-orang yang melihat langsung semua pada diam...
Saya juga pernah menyaksikannya sendiri, heran euy...

5/12/2008

36*POLITELINESS


Pagi tadi, aku menelpon seorang Pejabat - kepala sebuah instansi pemerintah, memberitahukan bahwa si Boss minta meetingnya ditunda menjadi keesokan hari. Sang Pejabat tersebut mulai bercanda ketika kuminta siapa duluan, setelah si Lady dari maskapai penerbangan nasional setempat atau sebelumnya? Jawabannya, "Lady dulu, kalau tidak si Don King (?) will run after her"... hehehe... kami tertawa...
Biasanya, sikapnya itu sangat simpatik dan hormat.

Beberapakali melalui telefon sang Pejabat memujiku ... "you are very polite person", katanya. Pada dasarnya semua orang bisa polite, hanya saja tergantung kepada masing-masing individu. Mau atau tidak?
Apalagi disini, untuk menemukan orang-orang yang polite adalah sangat langka atau hampir mustahil, kecuali bagi mereka yang pernah tinggal cukup lama di luar negeri.

Sopan santunnya mengingatkanku pada seorang milyuner yang kukenal beberapa tahun yang lalu, yang mengajakku membuat bisnis kacangan bersama. Disamping baik, orang-nya juga lugu. Semua kehidupan pribadinya diceritakan kepadaku sambil tertawa namun serius, bagaimana si istri yang menjauhinya bertahun-tahun (dikarenakan banyak drama yang terjadi karena pernah menginap salah satu penyakit yang mematikan dan kemudian efek dari pengobatan yang dijalaninya mempengaruhi kesehatan tubuhnya dibagian yang lain), dan..... ternyata punya pacar baru, ... lalu si istri menjadi President salah satu organisasi dunia cabang Eropah, ...beberapa tahun yang lalu. Persahabatan kami sempat terhenti ketika aku pindah ke kota lain, ketika bertemu kembali dia menceritakan hubungannya dengan anak seorang milyuner dari Ukraine yang seumur dengan anak perempuannya. Katanya sambil tertawa... Ukrainian itu begitu pintar... dia yang memulai duluan...

Aku dan salah seorang kenalannya dari TimTeng sempat mendiskusikan kebaikannya tersebut, mengagumkan sekali. Tragisnya... si istri membeli apartment dekat dengan apartment Ibunya di negara asalnya dengan alasan ingin menjaga si Ibu yang sedang sakit-sakitan. Sedangkan aku tidak melihatnya itu sebagai alasannya.
Sedangkan si Ukranian tersebut memilih pulang ke kampung halamanya di Ukraine...

Kebaikannya akan selalu kukenang. Terutama, bagaimana ketika dia yang sedang bangkrut dan tinggal menunggu waktu masuk pengadilan, tiba-tiba menjadi seorang milyuner kembali dalam sekejab. Semua tak terlepas karena kebaikan-kebaikannya sendiri menolongku mengantar kesana-kemari tanpa pamrih, ketika aku masih baru menginjakkan kaki di pulau kecil ini.

Disatu sisi, beberapakali dia menceritakan kisahnya yang pernah terpuruk lalu menjadi baik kembali dengan agak malu kepada sahabatnya atau orang lain, seakan-akan akulahlah orang yang membawa keberuntungan tersebut. Didalam hati, aku berkata bahwa semuanya karena kebaikannya sendiri.
Didalam Al Qur'an dikatakan, bahwa Allah merahmati para non-Muslim di dunia atas kebaikan-kebaikan mereka.

Aku sendiri sempat menikmati hasil kekayaanya tersebut, ketika itu aku ingin menyaksikan kembali pertunjukan "Lord of Dance" nya Michael Flatly dari Irlandia yang pernah kusaksikan sebelumnya di Belanda dulu, yaitu berupa sebuah tiket seharga 40 US dolar ...hehehe... oleh-oleh dari seorang sahabat.

Tadinya aku mengira bahwa orang Indonesia (pribumi) lah orang yang paling sopan di dunia. Ternyata, ketika aku diperkenalkan dengan salah seorang Dubes dari Eropah Tengah, aku jadi malu sendiri. Sopan santunnya melebihiku bahkan orang Indonesia lainnya. Sikapnya ketika mendengar pembicaran yang sangat-sangat sederhana dari seorang asisten rumah tangga asal Filipina di warung karaokenya yang juga sangat sederhana, tekun dan seksama, padahal menurutku pembicarannya begitu panjang dan membosankan...

Di gudang dimana kubekerja, pernah beberapakali para client kesal dengan si Boss. Ketika kutampung keluhan mereka dengan sopan dan berusaha jujur-memang kami yang salah kok... mereka mencoba melunak kembali dan bersabar. Duh!... senang sekali rasanya... apalagi orang disini bukan type cerewet atau mencak-mencak kalau sedang marah.

____________________________

**Untuk menghindari orang-orang tertentu yang mungkin terlalu awam, judgmental atau negative thinking maupun fanatik yang berlebihan - apalagi yang suka mengurus urusan orang lain tanpa mengetahui sesuatu lebih detail, dll. Blog ini kiranya hanya sampai disini.
Khusus kepada kaum Mukmin-kiranya ada yang salah, mohon maaf lahir dan bathin...

Wassalam...


5/08/2008

39*RENUNGAN DIRI ..

Renungan diri...

Hidupku adalah indah dan penuh warna. Alhamdulillah, atas segala yang diberikan oleh-Nya kepadaku, baik suka maupun duka.Mencoba untuk realis dan idealis, ternyata tidak semudah dalam pelaksanaannya. Banyak sandungan yang kuterima dalam menjalani hidupku sehari-hari baik yang datang dari kaum Muslim sendiri maupun kaum Non-Muslim, di dalam dan di luar negeri.Sulitnya lagi, yaitu ketika menghadapi kaumku sendiri. Seringkali kebenaran tenggelam dalam "kebablasan". Mereka membenamkan kebenaran demi nafsu setan dunia. Malah seringnya dunia dan akhirat diaduk menjadi satu. Sedihnya lagi, yang Muslimpun enggan memperlihatkan Identitas Diri kepada khalayak umum, dikarenakan takut akan dijauhi oleh yang lainnya. Menyedihkan sekali!!!Apalagi itu dilakukan oleh masyarakatku sendiri, yaitu masyarakat Indonesia. Dimana masyarakat Muslim-nya jauh lebih banyak dari pada kaum Non-Muslim.

Pengalamanku di luar negeri, ketika kuperlihatkan ID-ku kepada mereka dan berkata, "maafkan saya". Mereka menjawab, "no problem, we are all the same...". Nah...Bagiku pribadi, memperlihatkan ID adalah untuk memperkenalkan diri agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam berkomunikasi. Para non Muslim biasanya akan berhati-hati dalam berbicara yang tidak pantas diucapkan didepan kaum Muslim agar tidak terjadi perselisihan dan perseteruan.

Begitupun dengan hal makanan, mereka dengan senang hati menerima penolakan dalam ajakan yang menyangkut dengan makanan non-halal dan mau mengerti alasan-alasannya kenapa.Aku menikmati sekali kehidupanku, di dalam maupun di luar negeri. Dalam pergaulanpun aku selalu memilih mereka-mereka yang berilmu dan dengan senang sekali kalau digurui sehingga sedikit banyak ada ilmu-ilmu mereka yang kucuri...
Aneh rasanya, ada masyarakat Indonesia yang enggan untuk digurui... mungkinkah karena ilmu mereka yang sudah sedemikian tinggi bak para profesor?

Hanya orang bodohlah yang tidak ingin memiliki ilmu, seharusnya kita belajar hingga ke akhirnya, yaitu kapan? Ketika si roh pergi meninggalkan jasad...Belajar... bergaullah dengan mereka yang terpelajar, buku, media massa dsb... kalaupun perlu dan memungkinkan... ber-sekolah kembali.Justru kadang-kadang kebablasan datang dari mereka yang berpendidikan, terutama dari mereka yang tinggal di luar negeri atau yang menikah dengan orang asing yang nenemukan Identitas Baru.

Ada yang merasa seakan-akan "I'm the best dan mencari perhatian agar dikenal oleh semua orang". Lalu, membuka diri dengan segala pernak-pernik untuk dipamerkan kepada orang-orang yang tidak dikenal, dan bercerita diri atau bangga diri (Ujub) yang berlebihan bagaikan kacang yang lupa kulit, padahal apa yang diperoleh belum seberapa dibandingkan dengan orang lain, atau si pemberi Nikmat yaitu Allah yang Maha Kaya.

Justru dengan berendah hati (Tawadhu') akan memberi kesan seseorang yang tau bersyukur akan kenikmatan yang akhirnya didapat atau diperoleh dari-Nya, dan juga mendapat respek dari masyarakat sekitar dengan ditinggikan derajatnya di dunia.

Insyaallah ...

3/26/2008

31*AKAL/AKHAQ


Wa’alaikumus salam
alangkah lebih baik kita tdk perlu menyibukkan diri membantah syubhat orang-2 tak berakal ini. Mereka ini layaknya “anjing” baik diseru maupun tidak diseru tetap menjulurkan lidahnya. Umur ini sangatlah pendek sedangkan waktu berjalan begitu cepat dan takkan kembali, apa gunanya kita mengarahkan pandangan ke website “syaithan” dan “iblis” seperti itu. Allohumma…

http://abusalma.wordpress.com/silaturrahmi


Alloh berfirman :

"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir" Qs Al a'raaf 176

MARI KITA INGAT BERSAMA " WALA TA'FU MA LAISA LAKA BIHI ILMU INA SAM'A ... ALISRA 36"

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya"

Semoga manfaat atas koreksi ini, dan hidayah atas kita semua, insayalloh.

ttd

Abu Amin Alanshoriy

________________________

** Pernah suatu ketika mendengar sebuah ceramah yang intinya mengatakan kelebihan manusia atas makhuk lainnya yang diciptakan oleh Allah SWT yaitu "akal".

Bila manusia itu tidak menggunakan akal untuk berfikir, maka samalah ianya dengan makluk lainnya atau "hewan".
Manusia terkadang tidak mau menggunakan akalnya dikarenakan oleh beberapa sebab yang diakibatkan oleh setan. Setan-setan ini biasanya mengakibatkan manusia-manusia itu menolak akan kekurangan atau perbedaan kepada dirinyanya sendiri atau orang lain , seperti agama, pendapat, golongan, dll. Biasanya, pendidikan atau wawasan si anak manusia tersebut dapat membuat si anak manusia tersebut untuk tidak menjadikan manusia-manusia yang picik atau sempit dan naif... Terkadang, kenapa ada manusia yang "miskin harta dan jiwa" lalu "iri hati atau dengki" kepada manusia yang berada, atau kenapa manusia yang memiliki fisik yang kurang bagus lalu menjadi "iri hati atau dengki" kepada yang lebih bagus sehingga mencari alasan-alasan yang tidak berlogika seperti "mengulurkan lidah kesana-sini". Semakin jauh perjalan seorang manusia, semakin berwawasanlah ianya.
Ada baiknya kita tingkatkan mutu jalan-jalan ke Luar Negeri, agar tidak kebablasan lagi...

Pada dasarnya, orang tua memegang peranan yang cukup penting terhadap perkembangan anak-anaknya. Jika ada si anak yang tidak tau bertata krama hendaklah jangan menyalahkan
"si Guru yang mendidik melainkan Orang tua yang mengandung!!!!".

Bagus atau tidaknya "akhlaq (sopan santun, etika)" si anak terletak juga pada latar belakang orang tuanya. Jika ada anak yang berakhlaq rendah kemungkinan besar karena latar belakang orang tuanya yang rendah atau kurang bagus. Jika ada anak-anak yang melanjutkan sekolahnya lebih tinggi lagi hingga keluar negeri tetapi tidak juga berakhlaq, ini tidak saja menunjukkan latar belakang orang tuanya yang kurang bagus melainkan celakalah ...

Didalam berkomunikasi atau bergaulpun, etika memegang peranan yang sangat penting. Komunikasi itu sendiri dapat terjalin bila ada kesamaan salah satu faktor dari para pelakunya, diantaranya:

- Financial
- Education
- Background
- Intellectual

Background atau latar belakang itu sendiri terdari: keluarga, hobi, ide atau pendapat, dll.

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin bijaklah ianya. Semakin tinggi usia seseorang, semakin dewasa pula ianya. Mereka-merekalah yang hendaknya layak menjadi contoh dan menuntun yang muda-muda.

Ironisnya, banyak para petani yang tinggal di desa-desa, berpendidikan rendah dan hidup sederhana namun berjiwa bersih, tulus dan menerima hidup ini apa adanya dan bertawakal...

1/19/2008

26*BUNUH DIRI

Jumat, 18 januari 2008 18:10 WIB

Tragis. Gara-gara didera krisis harga kedelai yang terus membubung, seorang pedagang gorengan memilih mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri.

Harga mendera, nyawa bayarannya, demikian kredo yang, boleh jadi, dianut Slamet (45), pedagang gorengan yang bunuh diri itu.

Ia sehari-hari bekerja sebagai pedagang gorengan di Pasar Badak, tepatnya di tepi Jalan Raya A Yani, di Kampung Cidemang, Kelurahan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Sebagai seorang "persona", Slamet bunuh diri karena kebijakan soal kedelai yang dianggap absurd. Sedemikian absurd, sampai-sampai ia mengakhiri hidup.

Absurd, enam huruf yang melatarbelakangi dan mendorong pedagang gorengan untuk memberontak ("revolt").

Sebaliknya, seorang ibu pembuat tahu di Gunung Sulah, Bandar Lampung tampak terus menggoreng tahu sayur. Dengan mengenakan pakaian yang biasa digunakan sehari-hari, daster dan rambut yang diikat ke belakang, ia memegang alat penggorengan sambil terus membalik puluhan tahu dalam wajan yang berisi minyak goreng panas. Demikian foto yang dimuat oleh sebuah sebuah harian nasional pada Rabu (16/1).

Ibu itu tampil mewakili puluhan perajin tahu di sentra tahu Gunung Sulah atau Kampung Sawah Brebes, Bandar Lampung, yang kini dilanda kekhawatiran bahwa tahu yang mereka hasilkan tidak laku.

Tapi, mereka jelas terus melafalkan kata-kata bermakna; memberontak untuk mempertahankan hidup, dengan cinta.

Dia melakukan hal-hal yang terbilang "kecil" di mata warga perkotaan, untuk menyebut pekerjaan menggoreng tahu, namun jelas terekam dalam kamera. Meski begitu, dia melakukan pekerjaan dengan penuh cinta.

Ketika seorang ekonom di Jakarta berkata bahwa kebijakan pemerintah menurunkan tarif impor kedelai menjadi 0 persen merupakan kebijakan absurd karena tidak mempunyai efek apa pun terhadap harga dan kelangkaan kedelai saat ini, justru seorang pekerja di industri kecil tempe Arema, Jalan Jakarta, Bandung, terus mengaduk kedelai yang dicampur ragi untuk terus memproduksi tempe.

Bagi pekerja di industri tempe itu, meski absurd, dia terus berusaha, dan dia ada karena Pencipta adalah oase cinta yang tidak terkira bagi mereka yang dahaga di tengah ziarah kehidupan yang melelahkan.

"Kasus ini menunjukkan adanya kebijakan kosong dalam hal ketahanan pangan, khususnya untuk kedelai yang menjadi bahan baku tempe sebagai makanan rakyat yang sudah mendarah daging," ujar Didik J Rachbini, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN).

Menurut Didik, sistem produksi kedelai hancur karena kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas ini adalah kebijakan pembiaran, yang tidak memberi stimulasi terhadap petani untuk mendapat insentif keuntungan dalam berproduksi.

Singkatnya, kebijakan itu bernuansa pepesan kosong, atau kebijakan yang jauh dari aras cinta.

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada wartawan setelah memimpin rapat terbatas dengan menteri dan jajaran eselon I Departemen Pertanian, Jumat (18/1) mengungkapkan, perlunya perajin tempe-tahu beradaptasi menghadapi kenaikan harga kedelai di pasar dunia.
Bagaimanapun, ujar Presiden, kenaikan harga kedelai sampai 100 persen dapat menimbulkan guncangan pada industri berbasis kedelai di Tanah Air.

Dalam mengatasi kenaikan harga kedelai di pasar dunia dalam jangka pendek pemerintah telah menempuh berbagai kebijakan. Di antaranya menurunkan bea masuk impor dari 10 persen menjadi 0 persen.

Namun, ditengah upaya pemerintah untuk mencintai rakyatnya di tengah lilitan krisis kedelai, para pedagang tempe di Pasar Kosambi, Bandung, terpaksa membuang sebagian dagangannya yang tidak laku. Mereka menempuh langkah "revolt".

Alasannya, sejak kenaikan harga kedelai, produsen justru mengurangi ukuran tempe meski tetap menjual dengan harga yang sama. Kondisi ini membuat dagangan tidak dilirik pembeli.

Semenjak kenaikan harga kedelai, menurut pedagang bernama Ade, penjualan menurun. Jika tidak terjual dalam waktu empat sampai dengan lima hari, maka barang dagangan itu terpaksa dibuang. "Percuma jika terus dipajang karena konsumen memilih tempe yang baru," katanya.

Aura cinta untuk lebih memilih hidup ketimbang mengakhiri hidup juga dimiliki oleh pedagang lainnya. Budi, penjual tempe dan tahu di Pasar Cihaurgeulis, Bandung, menyebutkan, meski tempe dan tahu sulit dijual, ia tetap bertahan. Jumlah pembeli pun terus berkurang.

Mengapa para pedagang tahu dan tempe itu justru melakukan hal-hal yang relatif kecil dengan cinta besar besar ketika menghadapi krisis kedelai?

Seorang tokoh spiritual yang dikenal sebagai guru perdamaian dan persaudaraan, Bunda Teresa dari Kalkuta pernah mengatakan, "Kita tidak bisa melakukan hal besar di Bumi ini. Kita hanya bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar."

Suatu ketika seorang wartawan bertanya, "Apa yang bisa dilakukan seseorang untuk menjadi lebih bahagia?" Bunda Teresa menjawab, "Lakukan sesuatu yang menyenangkan untuk orang lain."

"Kamu akan melihat bahwa kalau kamu bersikap menyenangkan, maka dunia akan terlihat baik. Kalau kamu bersikap baik dan penuh perhatian, dunia akan mengembalikan kebaikan itu kepadamu," katanya.

Akan tetapi mengapa manusia kerapkali memilih absurditas - misalnya dengan jalan pintas bunuh diri - ketimbang mencintai hidup ini?

Filsuf Prancis Albert Camus dalam karyanya "The Myth of Sisyphus" mengajukan pertanyaan, apakah hidup yang dijalani manusia memang berharga untuk dihayati, bernilai untuk dirayakan?

Rutinitas atau kebiasaan hidup keseharian, dari bangun pagi, bekerja, makan, nonton teve, tidur, dan begitu seterusnya menyeret manusia kepada pertanyaan, untuk apa kehidupan yang serba rutin ini?

"Manusia telah kehilangan ingatan akan rumah yang telah hilang atau ketiadaan akan harapan kepada tanah air keabadian. Apa yang kita rindukan justru apa yang harus kita tolak," kata Camus.

Ketika menapaki 2008, publik ramai-ramai memproklamirkan resolusi hidup yang lebih optimistis ketimbang 2007. Absurditas terus mengintip dalam berbagai bencana alam dan penyakit, Camus pun menolak untuk berakrobat kemudian melakukan salto ke dalam agama.

"Manusia akan menjadikan agama semata-mata sebagai pembelaan diri (alibi) untuk melarikan diri dari kepahitan dan kegetiran hidup. Sekarang tinggal bagaimana manusia bersikap," kata Camus.

Menurut dia, konsekuensi dari penghayatan akan absurditas justru berontak (revolt). "Revolt artinya berkonfrontasi terus-menerus antara manusia dan kegelapannya. Dalam pemberontakan tidak ada pengharapan. Pemberontakan tidak memecahkan masalah mengenai hidup yang tanpa arti ini. Pemberontakan hanya membawa manusia kepada permenungan (kontemplasi) mengenai absurditas yang justru memberi kebebasan dan kebahagiaan."

Bebas dan bahagia untuk siapa? Bebas dan bahagia untuk diri sendiri, karena cinta mempromosikan diri kepada "aku" (promotion du toi), kata filsuf Prancis Maurice Nedoncelle.

"Mencintai berarti menghendaki penyempurnaan atas orang yang dicintai. Cinta itu memberi untuk menyempurnakan orang yang dicintainya. Cinta bahkan tidak akan membatasi diri kepada waktu-waktu tertentu. Cinta memiliki sikap mantap, tahan lama, dan merawat kesetiaan sepanjang waktu," katanya. (A.A Ariwibowo/ANT)


http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.18.18105699&channel=1&mn=20&idx=27

1/16/2008

15*KEPRIBADIAN YANG MATANG

Kepribadian yang Matang

Artikel Terkait: Kamis, 10 januari 2008 20:08 WIB
Kepribadian yang matang merupakan label positif bagi orang yang dianggap telah mencapainya. Sayang, banyak orang tak pernah berpikir menjadi matang. Padahal, kepribadian matang merupakan ukuran perkembangan kepribadian yang sehat.
Kepribadian yang matang diartikan secara berbeda-beda oleh banyak orang. Hal ini tercermin dari beberapa pendapat berikut ini. Menjawab pertanyaan dosen dalam kuliah tentang kepribadian di sebuah fakultas psikologi, ada mahasiswa yang mengartikan matang kepribadian sebagai sabar, tidak berlebihan dalam mengekspresikan emosi, dan pandai mengelola hubungan dengan orang lain.

Ada juga yang mengartikan kemampuan untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan dengan bijaksana. Beberapa mahasiswa menunjuk pada kemampuan memenuhi tugas-tugas perkembangan masa dewasa dengan baik, seperti memiliki pekerjaan dan filsafat hidup yang mantap, kondisi batin yang stabil, dan sebagainya.

Tulisan ini menyajikan kriteria yang lebih utuh mengenai kepribadian yang matang dari seorang sesepuh yang ikut merintis Psikologi, yakni Gordon W. Allport (1897-1967). Hingga saat ini teori-teorinya (tentang kepribadian yang sehat) tetap relevan.
Berikut adalah tujuh kriteria dari Allport tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang sehat.


1. Perluasan Perasaan DiriKetika orang menjadi matang, ia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri. Lebih dari itu, ia harus memiliki partisipasi yang langsung dan penuh, yang oleh Allport disebut "partisipasi otentik".

Dalam pandangan Allport, aktivitas yang dilakukan harus cocok dan penting, atau sungguh berarti bagi orang tersebut. Jika menurut kita pekerjaan itu penting, mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak, dan berarti kita menjadi partisipan otentik dalam pekerjaan itu. Hal ini akan memberikan kepuasan bagi diri kita.
Orang yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas, orang, atau ide, ia lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanya untuk pekerjaan, melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman, kegemaran, dan keanggotaan dalam politik, agama, dan sebagainya.

2. Relasi Sosial yang HangatAllport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk merasa terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi intim dengan orangtua, anak, pasangan, dan sahabat. Ini merupakan hasil dari perasaan perluasan diri dan perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik.

Ada perbedaan hubungan cinta antara orang yang neurotis (tidak matang) dan yang berkepribadian sehat (matang). Orang-orang neurotis harus menerima cinta lebih banyak daripada yang mampu diberikannya kepada orang lain. Bila mereka memberikan cinta, itu diberikan dengan syarat-syarat. Padahal, cinta dari orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat.

Jenis kehangatan yang lain, yaitu perasaan terharu, merupakan hasil pemahaman terhadap kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia.
Hasil dari empati semacam ini adalah kesabaran terhadap tingkah laku orang lain dan tidak cenderung mengadili atau menghukum. Orang sehat dapat menerima kelemahan manusia, dan mengetahui dirinya juga memiliki kelemahan. Sebaliknya, orang neurotis tidak mampu bersabar dan memahami sifat universal pengalaman-pengalaman dasar manusia.

3. Keamanan EmosionalKualitas utama manusia sehat adalah penerimaan diri. Mereka menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan, dengan tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut. Selain itu, kepribadian yang sehat tidak tertawan oleh emosi-emosi mereka, dan tidak berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu. Mereka dapat mengendalikan emosi, sehingga tidak mengganggu hubungan antarpribadi. Pengendaliannya tidak dengan cara ditekan, tetapi diarahkan ke dalam saluran yang lebih konstruktif.

Kualitas lain dari kepribadian sehat adalah "sabar terhadap kekecewaan". Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan atas berbagai keinginan atau kehendak. Mereka mampu memikirkan cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.
Orang-orang yang sehat tidak bebas dari perasaan tak aman dan ketakutan. Namun, mereka tidak terlalu merasa terancam dan dapat menanggulangi perasaan tersebut secara lebih baik daripada kaum neurotis.

4. Persepsi RealistisOrang-orang sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya, orang-orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri. Orang sehat tidak meyakini bahwa orang lain atau situasi yang dihadapi itu jahat atau baik menurut prasangka pribadi. Mereka memahami realitas sebagaimana adanya.

5. Keterampilan dan TugasAllport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri di dalam pekerjaan tersebut. Kita perlu memiliki keterampilan yang relevan dengan pekerjaan kita, dan lebih dari itu harus menggunakan keterampilan itu secara ikhlas dan penuh antusiasme.
Komitmen pada orang sehat atau matang begitu kuat, sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan ego. Dedikasi terhadap pekerjaan berhubungan dengan rasa tanggung jawab dan kelangsungan hidup yang positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis tanpa melakukan pekerjaan penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan.

6. Pemahaman DiriMemahami diri sendiri merupakan suatu tugas yang sulit. Ini memerlukan usaha memahami diri sendiri sepanjang kehidupan secara objektif. Untuk mencapai pemahaman diri yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya menurut keadaan sesungguhnya. Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan sesungguhnya, individu tersebut semakin matang.

Demikian juga apa yang dipikirkan seseorang tentang dirinya, bila semakin dekat (sama) dengan yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya, berarti ia semakin matang. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif.
Orang yang memiliki objektivitas teradap diri tak mungkin memproyeksikan kualitas pribadinya kepada orang lain (seolah orang lain negatif). Ia dapat menilai orang lain dengan seksama, dan biasanya ia diterima dengan baik oleh orang lain. Ia juga mampu menertawakan diri sendiri melalui humor yang sehat.

7. Filsafat HidupOrang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang. Ia memiliki perasaan akan tujuan, perasaan akan tugas untuk bekerja sampai tuntas sebagai batu sendi kehidupannya. Allport menyebut dorongan-dorongan tersebut sebagai keterarahan (directness).

Keterarahan itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu atau serangkaian tujuan, serta memberikan alasan untuk hidup. Kita membutuhkan tarikan yang tetap dari tujuan yang bermakna. Tanpa itu mungkin kita mengalami masalah kepribadian.
Kerangka dari tujuan-tujuan itu adalah nilai, yang bersama dengan tujuan sangat penting dalam rangka mengembangkan filsafat hidup. Memiliki nilai-nilai yang kuat merupakan salah satu ciri orang matang. Orang-orang neurotis tidak memiliki nilai atau memiliki nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara, yang tidak cukup kuat untuk mempersatukan semua segi kehidupan.

Suara hati berperan dalam menentukan filsafat hidup. Allport mengemukakan perbedaan antara suara hati yang matang dengan suara hati tidak matang. Yang tidak matang, suara hatinya seperti pada kanak-kanak: patuh dan membudak, penuh larangan dan batasan, bercirikan perasaan "harus".

Orang yang tidak matang berkata, "Saya harus bertingkah laku begini." Sebaliknya, orang yang matang berkata, "Saya sebaiknya bertingkah laku begini." Suara hati yang matang adalah perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau etis.